Rajib Hadie membayar lebih dari Rp1 juta untuk spesies burung hantu dengan nama Latin, Bubo Sumatranus . Saat masih kanak-kanak, burung hantu Indonesia ini mirip sekali dengan hewan peliharaan Harry Potter, Hedwig.
Dengan kacamatanya, Hadie juga mirip dengan tokoh penyihir rekaan penulis JK Rowling itu.
"Orang-orang bilang saya mirip Harry Potter dan semakin banyak yang bilang begitu setelah saya memelihara burung hantu. Dan burung hantu saya warna bulunya sama dengan burung hantu Harry Potter," kata Hadie.
"Sekarang banyak burung hantu yang dijual di Indonesia jadi makin mudah mendapatkannya," tambahnya pula.
- 'Rumah kelahiran' Harry Potter di Inggris dijual Rp17 miliar
- Penulis Harry Potter minta maaf atas cuitan salah tentang Trump
- Bagaimana JK Rowling 'melahirkan' petualangan Harry Potter?
Mochie adalah nama burung hantu peliharaan Hadie. Matanya besar dengan bulu putih bergaris cokelat tipis serta paruh dan kaki putih.
"Yang saya sukai dengan Harry Potter adalah kita bisa masuk ke dunia lain yang berbeda dengan kenyataan sekarang. Ada makhluk ajaib dan luar biasa di dunia itu. Dan, untungnya, ada satu kesamaan dengan kenyataan, yaitu burung hantu. Di Indonesia, ada burung hantu yang sangat mirip dengan yang di film Harry Potter," kata Hadie.
Rajib Hadie merupakan salah seorang anggota komunitas burung hantu Jakarta. Sejak didirikan tahun lalu, komunitas itu kini beranggotakan lebih dari 30 orang.
Berdasarkan penelitian antropolog Vincent Nijman dan ahli biologi konservasi Anne Nekaris dari Universitas Oxford Brookes di Inggris, jumlah burung hantu liar yang dijual di pasar-pasar burung Indonesia meningkat secara dramatis dalam 10 tahun terakhir.
Surveinya di 20 pasar burung menunjukkan ada 13.000 burung hantu yang dijual.
Muhammad Rizaldi mengaku tetangga-tetangganya tidak terkesan ketika tahu dirinya memelihara burung hantu kecil dari Jawa setelah terinsipirasi film Harry Potter.
"Burung hantu dipandang sebagai hewan yang mistis. Ketika burung hantiu berkicau, orang percaya bahwa memang ada hantu datang. Mereka juga dikaitkan dengan dunia roh karena mereka aktif pada waktu malam dan muka mereka menakutkan," kata Rizaldi.
Dia berkeras bahwa dirinya dan rekan-rekannya tidak menyalahgunakan burung hantu dan berupaya memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai burung hantu.
"Kami tidak memperlakukan burung hantu dengan kejam. Kami berupaya membuat hidup mereka sealami mungkin dan memberi makanan seperti yang mereka makan di alam liar. Bedanya di sini mereka dekat dengan alam, tapi juga mereka dekat dengan manusia."
Akan tetapi, peneliti dan pegiat perlindungan satwa tidak sependapat.
Baca tanpa iklan