News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Hari Anak Nasional: Kisah-kisah anak yang menikah dini di kamp pengungsian Palu

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dia menceritakan perasaannya ketika mengetahui pertama kali dirinya hamil.

"Takut, karena pikir to masih sekolah. Tapi suami bilang, 'jangan diapa-apakan, saya tanggung jawab'."

Pada April lalu, setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan, Dini akhirnya menikah.

Dini menuturkan orangtuanya sempat kecewa dengan pernikahannya sebab sebagai anak pertama, dirinya menjadi tumpuan harapan keluarga.

"Nangis, kecewa lah."

"Karena awalnya bilang saya mau kuliah, ini-itu, ujung-ujungnya tidak."

Betapapun, Dini kini mengaku pasrah dengan nasibnya.

"Mungkin jalannya sudah begitu. Takdirnya dorang."

Ibu Dini, Siti (bukan nama sebenarnya), mengiyakan bahwa pada mulanya dia tidak menghendaki putrinya menikah dini. Dia menginginkan Dini menyelesaikan pendidikan dan bekerja untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.

"Maunya kita, nanti kerja, dapat uang sendiri."

Siti sendiri baru menikah ketika usianya menginjak 21 tahun.

Namun, Siti tidak bisa melarang anaknya menikah karena selain sudah hamil di luar nikah, kondisi keuangan keluarganya pun terhimpit.

"Karena kita mata pencaharian sudah tidak menentu lagi. Sudah tinggal begini, rumah tidak ada. Mau dikasih kuliah apa sudah tiada lagi mata pencaharian," keluh Siti.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Siti membuat kue tradisional yang dia jual di warung-warung di pengungsian. Sementara suaminya sudah tak lagi bekerja.

Santi, 15 tahun

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini