Jauh sebelum iklan pakaian memuja-muja tipe tubuh kurus, fobia terhadap berat badan sudah menjadi ciri dari pemikiran kolonial.
Kolonialisme bersandar pada berbagai ide untuk membenarkan dominasi mereka terhadap bangsa lain, dan salah satunya adalah mitos mengenai orang gemuk dan ras yang dipandang lebih rendah.
Sabrina Strings, asisten profesor bidang sosiologi di University of California, Irvine, dan penulis "Fearing the Black Body: The Racial Origins of Fat Phobia" mengatakan penulis, jurnalis dan komentator di masa kolonial mengidentikkan tubuh gemuk di daerah jajahan dengan keliaran, kemalasan dan kelemahan.
- Kelebihan atau kurang berat badan dapat kurangi umur empat tahun
- Orang gemuk 'sulit dapat kerja, gajinya lebih kecil'
- Gemuk tapi sehat 'tetap berisiko terkena serangan jantung'
Ganjilnya, tubuh gemuk di masyarakat Barat dipandang dengan lebih ramah.
Montok dan cantik
Ketika Strings memulai penyelidikannya, ia membayangkan bahwa tubuh montok baru mulai tidak disukai di Eropa dan Amerika abad ke-20, sesudah mereka tak lagi memuja ikon Hollywood seperti Marilyn Monroe yang tergolong montok.
Namun Strings kaget menemukan bukti bahwa kesukaan terhadap tubuh kurus dimulai lebih awal lagi.
"Di awal abad ke-20, majalah seperti Cosmopolitan menyebutkan pentingnya bagi perempuan untuk memelihara apa yang mereka sebut sebagai kesederhanaan di meja," katanya kepada BBC.
Majalah itu mendorong perempuan untuk mengurangi makan "tak hanya karena itu mencerminkan diri seorang Anglo-Saxon Protestan yang baik, tapi juga karena itu bukti dari superioritas ras," katanya.
"Mereka tak ingin dianggap dianggap derajatnya sama dengan yang mereka sebut sebagai ras rendah."
Hasrat tak beradab
Menurut ahli sejarah Amerika, Christopher E. Forth, momen penting munculnya sikap anti tubuh gemuk muncul bahkan lebih awal, akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, saat keinginan bertubuh gemuk disamakan dengan hasrat dan kesenangan yang tak beradab.
Orang Eropa yang melawat ke Afrika Utara dan Barat menggambarkan bagaimana perempuan ditambah berat badannya menjelang pernikahan dan dipandang "seperti kalkun".
Orang Turki, Eskimo, penduduk asli Australia, Orang China dan India semua digambarkan sebagai gendut dengan berbagai cara yang menjelaskan tubuh mereka yang besar.
Ada ketakutan bahwa orang Eropa yang mengunjungi kawasan ini bisa ikut jadi gemuk.
- Tak terima 'disuruh diet,' ratu kecantikan Inggris kembalikan gelar
- 'Dulu saya si gemuk seksi di video seks, sekarang jadi inspirasi hukum antikejahatan siber'
- Kelebihan atau kurang berat badan dapat kurangi umur empat tahun
Sementara itu, orang Eropa yang gemuk dipandang sebagai korban dari berbagai faktor di luar kendali mereka seperti cuaca atau keturunan atau kelainan seperti kurangnya olah raga.
Baca tanpa iklan