News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

Studi China: Penyebaran Virus Covid-19 Bisa Melambat di Negara Bercuaca Lebih 'Hangat'

Penulis: Inza Maliana
Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sebuah studi baru menunjukkan penyebaran virus corona bisa melambat dalam cuaca yang lebih hangat.

TRIBUNNEWS.COM - Virus corona baru atau Covid-19 akan lebih mudah menyebar dengan cepat di negara bersuhu lebih dingin.

Penelitian tersebut dikemukakan oleh tim ahli dari Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, ibukota provinsi Guangdong China selatan.

Tetapi para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak jatuh ke dalam 'perangkap'.

Yakni menganggap setelah musim berganti maka virus akan 'lenyap', seperti yang menyebabkan pilek atau influenza biasa.

Karena para ahli masih berusaha menentukan bagaimana penyebaran virus corona baru mungkin dipengaruhi oleh perubahan musim dan suhu.

Studi tersebut menyarankan bahwa panas memiliki peran yang signifikan untuk dimainkan dalam bagaimana virus berperilaku.

"Suhu dapat secara signifikan mengubah transmisi Covid-19," kata para ahli, dilansir South China Morning Post.

“Dan mungkin ada suhu terbaik untuk tak banyak terjadi penularan virus.”

"Virus ini sangat sensitif terhadap suhu tinggi."

"Sehingga dapat mencegahnya menyebar di negara-negara yang lebih hangat," kata penelitian itu.

Mobil-mobil bergerak perlahan di sepanjang jembatan di kemacetan lalu lintas di pusat kota Moskow pada 6 Maret 2020. Pemerintah Rusia keluarkan aturan ancaman 5 tahun penjara bagi warganya yang tidak karantina mandiri Virus Corona selama 14 hari. (Yuri KADOBNOV/AFP)

Baca: TERBARU 16 Juta Penduduk Italia Bagian Utara Diisolasi, Kematian Virus Corona Melonjak dalam 24 Jam

Sebagai hasilnya, disarankan bahwa negara dengan wilayah suhu yang lebih rendah harus memperketat langkah-langkah kontrolnya.

Banyak pemerintah nasional dan otoritas kesehatan mengandalkan virus corona yang kehilangan sebagian potensinya ketika cuaca mulai menghangat.

Seperti umumnya terjadi pada virus serupa yang menyebabkan flu biasa dan influenza.

Namun, sebuah studi terpisah oleh sekelompok peneliti termasuk ahli epidemiologi Marc Lipsitch dari Harvard School of Public Health TH Chan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini