TRIBUNNEWS.COM - International Monetary Fund (IMF) menyebut pandemi Covid-19 akan menyebabkan resesi global di 2020 ini, Senin (23/3/2020).
Resesi global yang diramalkan IMF di 2020 bisa lebih buruk daripada yang dipicu krisis keuangan global pada 2008-2009.
Tetapi, output ekonomi dunia akan pulih pada 2021.
Melansir Al Jazeera, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva buka suara.
Ia menyambut tindakan fiskal luar biasa yang telah diambil banyak negara untuk meningkatkan sistem kesehatan, melindungi perusahaan, dan para pekerja yang terkena dampak.
Termasuk langkah-langkah yang diambil oleh bank sentral dalam melonggarkan kebijakan moneter.
"Bahkan, lebih banyak akan dibutuhkan, terutama di bidang fiskal," ungkapnya.
Georgieva mengeluarkan pandangan baru setelah panggilan konferensi para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari G-20, yang katanya setuju tentang perlunya solidaritas di seluruh dunia.
"Semua negara perlu bekerja sama untuk melindungi orang dan membatasi kerusakan ekonomi," kata Georgieva.
Lebih banyak negara memberlakukan tindakan penguncian untuk menampung virus yang menyebar dengan cepat.
Georgieva mengatakan prospek pertumbuhan global negatif, dan IMF sekarang memperkirakan, "Resesi setidaknya sama buruknya dengan krisis keuangan global atau lebih buruk".
Awal bulan ini, Georgieva telah memperingatkan bahwa pertumbuhan dunia tahun 2020 akan berada di bawah angka 2,9 persen.
Angka tersebut terlihat pada tahun 2019 tetapi tidak dapat memprediksi resesi.
Perang perdagangan mendorong pertumbuhan global tahun lalu ke tingkat terendah sejak kontraksi 0,7 persen pada 2009.
Baca: Pemerintah Pusat Minta Pemda Realokasi Dana untuk Darurat Covid-19
Pemulihan 2021
Georgieva mengatakan pemulihan diharapkan pada tahun 2020.
Tetapi untuk mencapainya negara-negara perlu memprioritaskan penahanan dan memperkuat sistem kesehatan.
"Dampak ekonomi sedang dan akan parah, tetapi semakin cepat virus berhenti, semakin cepat dan kuat pemulihan akan," katanya, Senin (23/3/2020).
Georgieva mengatakan IMF akan secara besar-besaran meningkatkan keuangan darurat.
Tak hanya itu saja, IMF mencatat bahwa 80 negara telah meminta bantuan.
Dan IMF siap untuk mengerahkan semua satu triliun dolar dalam kapasitas pinjaman.
Untuk diketahui, banyak pasar negara berkembang dan negara berpenghasilan rendah menghadapi tantangan yang signifikan, termasuk aliran modal keluar.
Baca: 3 Skenario Pemerintah soal Mudik Terkait Pencegahan Sebaran Covid-19: Ada Usulan Pelarangan
Keprihatinan IMF
IMF khususnya prihatin tentang negara-negara berpenghasilan rendah dalam kesulitan hutang dan bekerja sama dengan mereka untuk mengatasi masalah tersebut, tambahnya.
IMF meminta anggota untuk memberikan kontribusi dana untuk mengisi kembali Containment and Relief Trust Bencana untuk membantu negara-negara termiskin.
Georgieva mengatakan IMF sedang menjajaki opsi lain dengan para anggotanya.
Beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah telah meminta alokasi Hak Penarikan Khusus, aset cadangan internasional yang dibuat oleh IMF pada tahun 1969.
Untuk menambah cadangan resmi negara-negara anggotanya, seperti yang dilakukan selama krisis keuangan global, katanya.
Anggota IMF juga perlu menyediakan jalur swap tambahan dengan negara-negara pasar berkembang untuk mengatasi krisis likuiditas global, katanya.
IMF juga menjajaki proposal yang akan membantu memfasilitasi jaringan jalur swap yang lebih luas, termasuk melalui fasilitas tipe swap-IMF.
Baca: Ini Antisipasi Ditjen PAS Lindungi Napi agar Tak Terinfeksi Virus Corona
Covid-19
Sejauh ini, lebih dari 422.000 orang telah terinfeksi, dan lebih dari 18.800 telah meninggal, menurut penghitungan Covid-19.thebaselab.
Penyebaran penyakit pernapasan Covid-19 yang sangat menular yang disebabkan oleh Covid-19 telah menarik perbandingan dengan periode yang menghancurkan seperti Perang Dunia II, krisis keuangan 2008, dan flu Spanyol 1918.
"Kami membutuhkan koordinasi yang lebih kuat," kata Guterres, seraya menambahkan bahwa ia telah menulis ke 20 negara ekonomi terbesar dunia (G20) dan akan bergabung dengan pertemuan virtual mereka akhir pekan ini.
"Koordinasi dalam memastikan bahwa tidak hanya negara maju yang dapat merespons secara efektif terhadap penyakit ini," tambahnya.
"Tetapi juga ada dukungan besar-besaran bagi negara berkembang untuk tidak membiarkan penyakit ini menyebar seperti api," katanya.
Guterres mengatakan dia akan meluncurkan permohonan kemanusiaan senilai dua miliar dolar pada hari Rabu.
Dia juga menyerukan gencatan senjata global agar dunia dapat fokus memerangi virus korona.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan