TRIBUNNEWS.COM - Negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mulai membeku di tengah kekacauan internal lingkaran elite Teheran yang kini berada dalam tekanan perang berkepanjangan.
Intelijen AS meyakini Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, saat ini tengah bersembunyi di sebuah lokasi rahasia setelah terluka akibat serangan udara Israel pada awal perang besar kawasan Timur Tengah.
CBS News, seperti dikutip Channel News Asia (CNA) dan Euronews, melaporkan kondisi Mojtaba yang terus berpindah tempat perlindungan membuat rantai komunikasi pemerintahan Iran mengalami gangguan serius.
Situasi itu disebut menjadi salah satu penyebab utama lambat dan alotnya proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran.
Mojtaba dilaporkan mengambil alih posisi kepemimpinan tertinggi Iran setelah ayahnya tewas dalam serangan udara Israel pada fase awal konflik.
Namun sejak saat itu, pusat komando Teheran disebut tidak lagi berjalan normal.
Para diplomat Iran di luar negeri dikabarkan kesulitan memperoleh instruksi langsung dari lingkaran kekuasaan tertinggi.
Akibatnya, pembahasan berbagai poin penting dalam draf kesepakatan damai berjalan tersendat dan penuh ketidakpastian.
Diplomasi Membatu
Baca juga: 5 Populer Internasional: Lokasi Rahasia Mojtaba Khamenei - Kendala Proposal Perdamaian AS-Iran
Dilansir CNA, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Presiden AS, Donald Trump telah memerintahkan tim negosiasi untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan.
Menurut Rubio, Trump hanya membuka dua kemungkinan hasil akhir.
“Dia akan membuat kesepakatan yang bagus, atau tidak ada kesepakatan sama sekali,” kata Rubio dalam kunjungannya ke India.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, juga menegaskan kesepakatan damai masih jauh dari final.
Meski mengakui sebagian besar isu utama mulai menemukan titik temu, Baqaei menilai belum ada pihak yang dapat memastikan kapan perjanjian akan benar-benar tercapai.
“Tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim kesepakatan sudah dekat,” ujarnya.
AS Kembali Serang Iran
Ketika jalur diplomasi mulai tersendat, situasi di lapangan justru kembali memanas.
Baca tanpa iklan