News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

LSM Asal Israel Ini akan Ajukan Gugatan pada China atas Wabah Virus Corona

Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Pravitri Retno W
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Orang-orang Yahudi Ultra-Ortodoks menghadiri doa khusus untuk mengakhiri pandemi COVID-19 sambil menjaga jarak dua meter dari satu sama lain di Tembok Barat, situs paling suci Yudaisme, di Yerusalem. Rabu (25/3/2020). Israel mengikuti pembatasan ketat untuk menahan penyebaran coronavirus. (AFP/MENAHEM KAHANA)

TRIBUNNEWS.COM - LSM Israel, Shurat HaDin, berencana untuk mengajukan gugatan class action terhadap China atas wabah Covid-19.

Pihaknya menilai China telah lalai membiarkan virus SARS-CoV-2 sehingga bisa tersebar luas di seluruh dunia.

Dilansir Jerusalem Post yang mengutip Newsweek, setelah gugatan Israel ini akan bergabung dengan empat tuntutan hukum yang tengah diajukan Amerika ke pengadilan AS. 

Baca: Menteri Kesehatan Israel Positif Covid-19, PM Israel Benjamin Netanyahu Lagi-lagi Dikarantina

Baca: Intelijen Israel Ungkap Rahasia China Terkait Virus Corona yang Ditutupi

Sama halnya seperti Israel, AS menuntut China atas adanya pandemi Covid-19.

Menurut istri direktur Shurat HaDin, Nitsana Darshan-Leitner, yakni Aviel Letiner, biasanya LSM ini berfokus pada kelompok terorisme.

Namun terkait corona, China dinilai tidak mampu menghindari dugaan kegagalan dalam menahan virus.

Menurutnya ini sama seperti kasus teroris yang biasa LSM tangani.

Sementara itu, gugatan yang diajukan AS karena fakta sebagian besar negara lain takut akan implikasi kekuatan ekonomi China, jelas Aviel.

Sebelumnya, beberapa tahun terakhir ini China melakukan investasi besar dalam infrastruktur Israel.

Negeri Tirai Bambu memenangkan miliaran dolar tender untuk proyek-proyek seperti lightrail Tel Aviv dan pelabuhan baru Haifa.

Setidaknya kompensasi yang harus dibayar Tiongkok atas tuntutan ini adalah senilai USD 6 Triliun.

Orang-orang Yahudi Ultra-Ortodoks menghadiri doa khusus untuk mengakhiri pandemi COVID-19 sambil menjaga jarak dua meter dari satu sama lain di Tembok Barat, situs paling suci Yudaisme, di Yerusalem. Rabu (25/3/2020). Israel mengikuti pembatasan ketat untuk menahan penyebaran coronavirus. (AFP/MENAHEM KAHANA) (AFP/MENAHEM KAHANA)

Gugatan ini menambah spekulasi antara pakar, pemimpin dunia, dan tim peneliti terkait sumber penyakit mematikan ini.

Menurut laporan The Hill, ada sebuah labolatorium yang melakukan penelitian virus corona di Wuhan.

Otoritas China menyangkal anggapan Covid-19 berasal dari labolatorium.

Menurut pihaknya, virus bermula dari pasar basah di Wuhan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini