Seorang mantan pekerja pelabuhan buka suara tentang ledakan di Beirut.
Pria bernama Yusuf Shehadi menyebut, lusinan kantong kembang api disimpan di tempat yang sama dengan 2.750 ton amonium nitrat di pelabuhan Beirut.
Hal tersebut diduga memicu senyawa kimia peledak yang memicu ledakan besar pada Selasa (4/8/2020) lalu.
Kepada Guardian, Shehadi mengatakan, militer Lebanon pernah memberi instruksi kepadanya untuk menyimpan bahan kimia di gudang 12 di pelabuhan.
Padahal, kala itu, protes besar-besaran terjadi di Beirut.
Warga Lebanon marah terhadap penyimpanan 2.750 ton bahan berbahaya yang disimpan begitu dekat dengan lingkungan perumahan selama bertahun-tahun.
"Kami banyak mengeluhkan hal ini selama bertahun-tahun," kata Shehadi, yang bekerja di pelabuhan dan telah beremigrasi ke Kanada pada Maret 2020.
Baca: Pasangan Rekam Detik-detik Ledakan di Beirut dari Jarak 585 Meter, Panik dan Jatuh Terkena Ledakan
Shehadi menceritakan, setiap minggu, petugas bea cukai datang dan mengeluh, begitu pula petugas keamanan negara.
Namun, tentara terus memberi tahu bahwa mereka tidak mempunyai tempat lain untuk meletakkan ribuan ton bahan kimia tersebut.
"Semua orang ingin menjadi bos, dan tidak ada yang ingin membuat keputusan nyata," imbuhnya.
Selain itu, di gudang yang sama, terdapat sejumlah kembang api.
Shehadi mengungkapkan, kembang api itu telah disita oleh bea cukai sekitar tahun 2009-2010.
Ia telah melihatnya sendiri saat lusinan kantong kembang api dikirimkan dengan forklift.
"Ada 30 sampai 40 kantong nilon berisi kembang api di dalam gudang 12," katanya.
Shehadi menyebut, lusinan kantong kembang api terletak di sisi kiri setelah memasuki pintu gudang.
Baca tanpa iklan