News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

Lockdown Kedua Dilakukan di Perancs Demi Tahan Penyebaran Covid-19

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Staf medis di Mulhouse, tempat Prancis pertama kali mendeteksi lonjakan kasus, memindahkan seorang pasien ke rumah sakit.

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, PARIS - Presiden Prancis Emmanuel Macron akan memberlakukan kembali sistem penguncian (lockdown) nasional mulai Jumat besok, untuk menekan angka penyebaran virus corona (Covid-19).

Dalam pidatonya pada Rabu kemarin waktu setempat, Macron menjelaskan bahwa universitas dan sekolah akan diminta untuk melakukan pengajaran secara online.

Selain itu, perjalanan antar daerah pun akan dilarang, warga diharapkan kembali bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dan batas luar Wilayah Schengen tetap ditutup.

"Gelombang kedua pandemi di Prancis akan lebih parah dan mematikan daripada yang pertama," kata Macron.

Baca juga: Jadwal Krasnodar vs Chelsea Liga Champions, The Blues Tak Pernah Kalah Lawan Tim Rusia, Live SCTV

Ia menambahkan bahwa ada lebih dari 35.785 orang di negara itu telah meninggal sejak awal pandemi.

Sementara itu dalam 24 jam terakhir saja, ada lebih dari 36.000 orang telah terinfeksi.

Dalam waktu 24 jam pada Selasa lalu, pejabat kesehatan negara itu mengatakan ada lebih dari 500 kematian terkait virus ini, angka harian tertinggi dicapai sejak April 2020.

Menurut Macron, langkah-langkah tersebut diperkirakan akan tetap berlaku hingga 1 Desember mendatang.

Baca juga: Ibu di Baubau Gugat Gugus Tugas dan RSUD, Mengaku Dirugikan saat Dinyatakan Positif Covid-19

Dikutip dari laman Sputnik News, Kamis (29/10/2020), jika situasi membaik dalam waktu 15 hari, pemerintah Prancis akan mempertimbangkan kembali untuk membuka beberapa toko.

Secara umum, bagaimanapun juga, langkah-langkah tersebut diharapkan tetap diberlakukan hingga angka infeksi harian turun dari 40.000 per hari menjadi sekitar 5.000 per hari.

Presiden Federasi Rumah Sakit Prancis Frederic Valletoux mengatakan pada Rabu kemarin bahwa pemerintah tidak belajar dari semua peristiwa yang terjadi selama pandemi.

"Pemerintah tidak memperhitungkan gelombang pertama dan tidak mempelajari semua yang terjadi," kata Valletoux.

Baca juga: Gerakan 1.000 Guru Salurkan Makanan Bergizi Bantu Anak-anak di Tengah Pandemi Covid-19

Ini adalah lockdown nasional kedua yang diberlakukan Prancis.

Sistem pertama diberlakukan pada 17 Maret lalu, pembatasan selama lockdown pertama berlangsung hingga Mei 2020.

Data terbaru Worldometer menunjukkan bahwa ada lebih dari 1,2 juta kasus corona yang terjadi di Prancis dan lebih dari 35.000 kasus berujung pada kematian.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini