News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

21 April 2021 Para Peneliti Sains dan Lingkungan akan Bertemu di Kitakyushu Jepang Secara Virtual

Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Peserta training management lingkungan yang diikuti oleh mahasiswa dari 10 universitas dan dosen dari Indonesia ketika berada di Jepang.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Berawal dari kota polusi, Kitakyushu akhirnya menjadi kota bersih lingkungan, menjadikan tempat berkumpul para peneliti sains dan lingkungan dunia khususnya dari Indonesia dan Jepang.

Dijadwalkan para peneliti sains dan lingkungan dunia akan bertemu lewat media zoom pada 21 April 2021 mendatang.

"Dengan adanya kolaborasi penelitian ini, berharap ada banyak peneliti, dosen dan pemda bisa belajar tentang managemen lingkungan untuk menjadi acuan pemecahan masalah lingkungan yang sedang dihadapi oleh Indonesia dan menjadi acuan juga untuk pembelajaran pendidikan lingkungan, demi mendidik generasi muda menjadi manusia yang ramah lingkungan."

"Ada banyak program pendidikan yang bisa kita adopsi dan diimplementasikan di Indonesia," ungkap Dr Eng Indriyani Rachman, Peneliti di Lab Matsumoto Universitas Kitakyushu kepada Tribunnews.com, Jumat (29/1/2021).

International Conference on Research Collaboration of Environmental Science (ICRC) 2021, https://kitakyushu-indonesia.com, merupakan konferensi kedua yang diselenggarakan sebagai bentuk kerja sama dan inisiatif kolaborasi antara Universitas Kitakyushu dengan universitas mitra lainnya.

ICRC pertama dilaksanakan di Universitas Airlangga pada 12 Maret 2018.

Hasil penelitian dari 54 artikel konsorsium pada konferensi tersebut disebarluaskan dan dipublikasikan di https://iopscience.iop.org/issue/1755-1315/245/1.

"Konferensi ini juga membuka peluang kerja sama antara Universitas Kitakyushu dan anggota komunitas dengan seluruh sivitas akademika yang berminat melakukan penelitian di bidang manajemen lingkungan, pendidikan dan teknologi.

Tahun 2021 Universitas Kitakyushu, Jepang akan menjadi tuan rumah ICRC kedua.

"Konferensi ini akan dilaksanakan pada 21 April 2021 dengan menggunakan media konferensi zoom (virtual setting) karena situasi pandemi," tambahnya.

Baca juga: Terkenal di Indonesia sebagai Kakek Sugiono, Aktor Jepang Bongkar Lika Liku Main 300 Film Dewasa

ICRC 2021 memanggil semua sarjana dan peneliti untuk berbagi pengalaman mereka untuk meningkatkan pengalaman ilmiah tentang masalah lingkungan dan keberlanjutan di negara mereka.

Konferensi ini juga dirancang untuk mendapatkan inovasi dalam beberapa topik spesifik, antara lain: pengelolaan dan pengolahan limbah padat, pemantauan polusi udara, pengolahan air dan pengelolaan sumber daya, inisiatif rendah karbon, pendidikan lingkungan, budaya lingkungan, kesehatan lingkungan, dan energi terbarukan.

ICRC ini dibangun dari kerja sama penelitian yang sudah berlangsung sekitar 6 tahun, awalnya antara Universitas Kitakyushu, fakultas Teknik Lingkungan, Matsumoto Laboratorium dengan 5 Universitas di Indonesia, yaitu ITB, UM, UNAND, UNPAS dan Universitas Langlangbuana Bandung.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya sekarang ada 11 universitas di Indonesia di antaranya Unair, ITS, Undip, Universitas Trisakti dan Universitas  Pakuan yang tergabung dalam kolaborasi dengan Universitas Kitakyushu.

Dari pihak Universitas Kitakyushu diwakili oleh Prof. Toru Matsumoto, Prof. Yayoi Kodama, Prof. Miyake Hiroyuki dan Indriyani Rachman, Ph.D sebagai penelitian di Lab Matsumoto.

Mengapa Kota Kitakyushu?

Sulit membayangkan kalau Kota Kitakyushu adalah kota yang pernah memiliki sejarah masalah polusi yang parah.

Berawal dengan berdirinya pabrik baja Yawahata di tahun 1900 dan bermulanya revolusi industri di Jepang.

Lalu bermunculan industri lain yang menunjang, jadi lah kota Kitakyushu merupakan kota industri yang sangat makmur.

Pada saat itu tidak ada yang berpikir bahwa ini merupakan awal dari kerusakan lingkungan.

Banyaknya warna warni asap yang mengepul dari pabrik merupakan simbol kejayaan ekonomi pada saat itu.

Baca juga: Biaya Langganan Rakuten Jepang Dengan Data di Bawah 1 GB Gratis

Dengan berbagai warna asap, tidak heran pada saat itu, semua menyebutkan sebagai Kota Tujuh Pelangi.

Tahun pun berganti, kerusakan lingkungan, Kesehatan masyarakat, menjadi semakin resah dengan keberadaan area industri yang tidak memikirkan Kesehatan lingkungan.

Adalah selat yang memotong antara Distrik Tobata dan Distrik Wakamatsu, selat ini pernah disebut sebagai laut mati, karena memang tidak ada makhluk hidup kecil pun yang hidup di sana.

Airnya berwarna lumpur dan banyaknya zat kimia yang dibuang dari sisa pabrik.

Bermula dari keresahan para ibu-ibu akan Kesehatan anak-anak dan keluarga, maka bergabunglah ibu-ibu di Distrik Tobata untuk meminta kepada pemerintah melakukan tindakan terhadap kerusakan alam dan polusi udara yang parah.

Bayangkan, banyak anak-anak yang menderita infeksi saluran pernafasan, udara bercampur dengan debu.

Berkat kesungguhan semua warga, pemerintah dan industri, maka jadilah Kitakyushu sebagai kota yang berbenah dari polusi udara dan polusi air serta masalah sampah organik dan anorganik.

Kitakyushu memiliki pusat pengolahan sampah yang berpusat di area Eco Town, di mana ada 27 pabrik daur ulang yang menampung sampah dari Kitakyushu dan kota sekitarnya.

Baca juga: Survei Keidanren Jepang: Teleworks di 11 Perfektur Masih 65 Persen

Memiliki pusat pengolahan air limbah di setiap distrik yang mengcover hampir 99 persen limbah domestic. Serta banyak technology lain yang berkaitan dengan pengelolaan sampah.

Ini sangat menarik untuk dipelajari sehingga menjadi ide baru untuk penelitian.

Saat ini, Kota Kitakyushu menjadi kota model lingkungan terbaik di Jepang, bahkan menjadi kiblat bagi negara negara berkembang untuk belajar tentang managemen lingkungan dan pendidikan lingkungan.

Saat ini Pemerintah Kitakyushu sedang gencar mempromosikan berbagi pengetahuan tentang kota ramah lingkungan ke kota-kota negara berkembang yang lebih besar dan menjalin kerja sama dalam keberlanjutan.

Harapan Kitakyushu dapat mendukung kota-kota Asia lainnya menuju jalur keberlanjutan untuk mewujudkan visi bersama untuk program Rendah Carbon Asia, seperti yang tertera pada program SGDs.

Betapa konsennya pemerintah terhadap pendidikan lingkungan untuk siswa sekolah.

Dibangunnya lebih dari 20 berbagai fasilitas untuk mendukung keberlangsungan pendidikan lingkungan, seperti museum environmental, museum air, pusat research kunang-kunang dan lainnya.

Pemerintah Kitakyushu juga banyak memiliki program pembelajaran yang berkaitan dengan lingkungan, bukan hanya untuk siswa sekolah, tetapi untuk masyarakat umum.

Baca juga: Jepang Bentuk Tim Penelitian Terkait Efek Samping Vaksinasi Covid-19

Seperti tes kemampuan dasar mengenai lingkungan yang dapat di-apply oleh siapa saja yang ingin uji nyali untuk mengukur sampai mana pengetahuan mengenai lingkungan.

Oleh karena itu tidak heran bila Kota Kitakyushu pun menjadi model percontohan untuk pemecahan masalah lingkungan dan sangat menarik untuk melakukan penelitian disini.

Seperti yang dilakukan oleh banyak para dosen dan pemda Indonesia yang berkunjung ke Kitakyushu.

Lab Matsumoto pun mengadakan kegiatan mengundang mahasiswa Indonesia untuk belajar mengenai manajemen lingkungan.

Berharap akan banyak dosen dan mahasiswa serta Pemda yang berkesempatan untuk mengikuti training di Kitakyushu.

Sementara itu telah terbit buku baru "Rahasia Ninja di Jepang" berisi kehidupan nyata ninja di Jepang yang penuh misteri, mistik, ilmu beladiri luar biasa dan tak disangka adanya penguasaan ilmu hitam juga. informasi lebih lanjut ke: info@ninjaindonesia.com

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini