News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Penanganan Covid

Program Vaksinasi Covid-19, CDC Minta Pemerintah AS Prioritaskan Penyandang Disabilitas

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Arif Fajar Nasucha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Seorang petugas kesehatan menyortir sampel darah untuk studi vaksinasi Covid-19 di Center for Pediatrics Infectology Studies (CEIP) di mana perusahaan farmasi Janssen, dari Johnson & Johnson, sedang mengembangkan studi fase 3 vaksin di Cali, Kolombia pada 26 November, 2020.

TRIBUNNEWS.COM - Permintaan dosis vaksinasi virus corona Amerika Serikat (AS) melampaui pasokan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS pada Selasa (2/3/2021) menegaskan, pemerintah harus mempertimbangkan dan memprioritaskan penyandang disabilitas atau penurunan kognitif, setelah pejabat menambah akses vaksin.

Mengutip Washington Post, dalam pengumuman yang merupakan bagian dari rekomendasi terbaru CDC, disebutkan ada tiga vaksin yang dipercaya dan digunakan untuk memerangi pandemi Covid-19 di AS.

"Satu di antara ketiganya dapat digunakan selama fase awal ini ketika pasokan sangat terbatas," kata para pejabat.

Untuk diketahui, vaksin dari Johnson & Johnson bisa sekali pakai karena tidak perlu dibekukan.

Baca juga: Afrika Selatan Batalkan Penggunaan Vaksin Covid-19 AstraZeneca, akan Beralih ke Johnson & Johnson

Baca juga: CDC Rekomendasikan Masker Berlapis, Benarkah Lebih Efektif Cegah Covid-19? Ini Kata Satgas IDI

Seorang petugas kesehatan menyortir sampel darah untuk studi vaksinasi Covid-19 di Center for Pediatrics Infectology Studies (CEIP) di mana perusahaan farmasi Janssen, dari Johnson & Johnson, sedang mengembangkan studi fase 3 vaksin di Cali, Kolombia pada 26 November, 2020. (Luis ROBAYO / AFP)

Vaksin ini disebut paling baik diberikan untuk orang yang ingin divaksinasi dengan cepat atau mereka yang kesulitan kembali untuk mengikuti vaksinasi tahap kedua.

"Vaksin Johnson & Johnson mungkin paling cocok untuk orang yang sering berpindah-pindah atau mereka yang tinggal dan bekerja di tempat penampungan tunawisma atau fasilitas pemasyarakatan," kata CDC.

Dua vaksin resmi lainnya, satu dari raksasa farmasi Pfizer dan perusahaan bioteknologi Jerman BioNTech serta yang lainnya dari perusahaan bioteknologi AS Moderna memerlukan dua dosis/dua tahap.

Para ahli mencatat bahwa panduan terbaru menunjukkan lebih banyak perhatian pada tantangan dunia yang secara nyata telah muncul di seluruh negeri.

Sebab, banyak orang yang diprioritaskan untuk vaksinasi tidak dapat membuat janji secara online/daring.

Negara bagian dan daerah telah mengadopsi pendekatan yang sangat berbeda serta mengatur pedoman terkait siapa yang menerima akses vaksin tahap awal.

Tak jauh berbeda dengan negara-negara lain, para pejabat negara kerap mengumumkan perubahan kebijakan yang membuat masyarakat menjadi kebingungan dengan pedoman baru.

Banyak lansia yang ditetapkan sebagai prioritas tertinggi untuk vaksinasi tidak dapat mendaftar karena sistem online yang bermasalah atau kurangnya akses internet.

Baca juga: Setelah Divaksinasi, Orang Masih Bisa Terinfeksi Covid-19 Lagi, Ini Penjelasan CDC

Baca juga: Gelembungkan Biaya Peralatan Covid-19, Kepala CDC Hanoi Vietnam Divonis 10 Tahun Penjara

Pekerja medis Michelle Chester menunjukkan vaksin penyakit virus korona Pfizer (Covid-19) sebelum memberikannya kepada perawat Sandra Lindsay, yang termasuk di antara yang pertama menerimanya, dan yang akan menerima dosis kedua di Long Island Jewish Medical Center di daerah Queens Kota New York, pada 4 Januari 2021. (SHANNON STAPLETON/POOL/AFP)

Prioritaskan Penyandang Disabilitas

Panduan CDC terbaru mendesak negara bagian untuk mempertimbangkan "kebutuhan" penyandang disabilitas atau penurunan kognitif dan pengasuhnya.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini