"Myanmar tidak memiliki satu pun ilmuwan nuklir. Jadi, apakah Rusia bersedia membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik dan rantai pasokan penuh, dari bahan bakar hingga limbah, atau Myanmar harus menghabiskan dekade berikutnya untuk melatih para ilmuwan nuklir," katanya.
Guillaume de Langre juga berargumen bahwa kudeta membuat sektor listrik menuju kebangkrutan dan rezim militer tidak memiliki banyak kredibilitas sebagai pembeli atau sebagai penjamin keamanan proyek infrastruktur.
Baca juga artikel lain terkait Krisis Myanmar
(Tribunnews.com/Rica Agustina)
Baca tanpa iklan