Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di London, Wahyu Hansudi memandang Britania Raya menjunjung sikap toleransi tinggi baik itu suku, agama, dan ras.
Pria yang sudah tinggal di Inggris selama 19 tahun itu menilai hal itu diwariskan oleh Ratu Elizabeth II.
"Mengenai isu toleransi, dari dulu Inggris ini dikenal sebagai negara yang cukup terbuka terhadap siapa saja, asal tidak berbuat kriminal, tingkat rasisme pun kecil," ucap Wahyu kepada Tribun Network, Jumat (9/9/2022).
Ratu Elizabeth pun pernah menyampaikan pesan Natalnya yang dirilis Istana Buckingham.
Sang Ratu memasukkan komentarnya mengenai pentingnya keluarga dan persahabatan.
Baca juga: Ungkapan Kesedihan Kaisar Jepang Atas Meninggalnya Yang Mulia Ratu Elizabeth II dari Inggris
Telah terbukti, Wahyu merasakan betul tingkat diskriminasi yang sangat minim di Inggris.
Sebagai tour consultant berpengalaman, Wahyu mengatakan United Kingdom bisa dikatakan sebagai negara multikulturalisme.
Itu karena hampir semua suku bangsa di seluruh dunia dapat ditemui di Inggris.
"Ini menandakan seberapa tinggi tingkat keterbukaan atau toleransi negara Inggris terhadap orang asing," imbuhnya.
Wahyu juga menerangkan maksud dari operasi London Bridge yang ramai dibicarakan jagad dunia usai meninggalnya Ratu Elizabeth II pada Kamis (8/9/2022) waktu setempat.
Menurutnya, operasi London Bridge ini serangkaian kegiatan yang disiapkan menyusul kematian Ratu Elizabeth II.
Operasi London Bridge ini akan menjadi agenda utama Inggris selama beberapa waktu kedepan hingga Inggris melantik raja baru.
"Setiap raja atau ratu yang berkuasa, saat meninggal dunia akan dimakamkan secara kenegaraan, dan sebelum pemakaman biasanya ada Tradisi Lying in State," urainya.
Lying in State atau pembaringan kenegaraan, lanjutnya, merupakan sebuah tradisi di mana jasad orang yang sudah meninggal akan ditempatkan di sebuah bangunan kenegaraan di luar atau di dalam peti mati.
Baca juga: Desain Poundsterling Berubah, BOE: Uang Bergambar Ratu Elizabeth II Tetap Sah Digunakan
Tujuannya, agar khalayak umum bisa memberikan penghormatan terakhir bagi mendiang.
Pakaian Cerah Sang Ratu
Ratu Elizabeth II mengabdikan hidupnya untuk rakyat.
Ia pun kerap tampil mengenakan pakaian-pakaian cerah.
"Saya harus dilihat untuk dipercaya," kata sang ratu mengungkapkan alasannya.
Ratu Elizabeth II merupakan kepala negara tertua dan terlama di dunia.
Dia naik takhta setelah kematian ayahnya Raja George VI pada 6 Februari 1952.
Baca juga: Laga Liga Inggris Pekan Ketujuh Resmi Ditunda untuk Hormati Mendiang Ratu Elizabeth II
Elizabeth II dimahkotai pada bulan Juni tahun berikutnya, ketika dia baru berusia 25 tahun.
Penobatan pertama yang disiarkan di televisi adalah pendahuluan dari dunia baru di mana kehidupan para bangsawan menjadi semakin diteliti oleh media.
"Saya dengan tulus berjanji untuk melayani Anda, karena begitu banyak dari Anda berjanji untuk melayani saya. Sepanjang hidup saya dan dengan sepenuh hati saya akan berusaha untuk menjadi layak atas kepercayaan Anda," katanya dalam pidato kepada rakyatnya di hari penobatannya.
Meskipun konon tingginya hanya sekitar 5 kaki 3 inci, dia memerintahkan setiap ruangan yang dia masuki.
Elizabeth menjadi ratu pada saat Inggris masih mempertahankan sebagian besar kerajaan lamanya.
Dia menyaksikan perubahan politik besar-besaran dan pergolakan sosial di dalam dan luar negeri.
Dia juga hidup di tengah kesengsaraan keluarganya sendiri, termasuk saat perceraian Pangeran Charles dan mendiang istri pertamanya Diana dipertontonkan di depan umum.
Ratu Elizabeth II pula mencoba menyesuaikan institusi monarki kuno dengan tuntutan era modern.
--
Baca tanpa iklan