TRIBUNNEWS.COM - Keluarga korban kecelakaan kereta api di Yunani mengantre memberikan sampel DNA untuk mengidentifikasi para korban, Kamis (2/3/2023), Independent melaporkan.
Padasaat yang sama, aksi protes meletus di jalanan atas sistem kereta api yang dinilai sudah ketinggalan zaman di negara itu.
Di luar rumah sakit di Kota Larissa, tempat banyak korban dibawa, seorang wanita bernama Katerina, mencari saudara laki-lakinya yang hilang.
Ia berteriak: “Pembunuh! Pembunuh! Aku akan pergi besok dengan peti mati!”
Kemarahan Katerina ditujukan pada pemerintah dan perusahaan kereta api.
Seperti orang lainnya yang mencari keluarga mereka, Katerina menjalani tes DNA untuk mencoba mengidentifikasi saudara laki-lakinya.
Baca juga: Menteri Perhubungan Yunani Mundur Pasca Insiden Kecelakaan Kereta Api
Keluarga korban lainnya, Dimitris Bournazis mengatakan kecelakaan itu harus menjadi momen perombakan keamanan penuh sistem kereta api negara itu.
“Saya telah kehilangan saudara laki-laki saya, ayah saya."
"Itu tidak bisa berubah, saya tahu itu," katanya.
"Tapi intinya kita jangan meratapi korban seperti itu lagi."
"Mereka membeli 50 tiket untuk mati."
Serikat pekerja kereta api melancarkan aksi mogok sebagai protes atas penghentian layanan kereta api di seluruh negeri.
Karena banyak orang di Yunani menuntut jawaban, kepala stasiun di Larissa, di dekat kecelakaan itu terjadi, telah mengakui berperan dalam kecelakaan tersebut, kata pengacaranya Stefanos Pantzartzidis.
"Dia benar-benar hancur," kata Pantsartzidis kepada wartawan.
"Sejak saat pertama, dia telah memikul tanggung jawab yang proporsional dengannya," katanya sambil mengisyaratkan bahwa kepala stasiun, yang namanya tidak dipublikasikan, bukanlah satu-satunya yang harus disalahkan.
Baca juga: Para Pemimpin Eropa Sampaikan Belasungkawa Tragedi Tabrakan Kereta Api Yunani
Baca tanpa iklan