News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gerhana matahari hibrida: Di mana dan kapan terjadi, serta hal-hal yang perlu Anda ketahui

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kalau Anda tidak punya kacamata gerhana, Anda bisa menggunakan alat yang lebih sederhana seperti kamera lubang jarum (pinhole camera).

Cara yang lebih sederhana lagi ialah melihat bayangan matahari dari balik dedaunan pohon yang rimbun, atau saringan memasak yang memiliki lubang-lubang kecil.

Andi menjelaskan ada dua cara yang tidak disarankan untuk melihat gerhana matahari.

Pertama, menggunakan kacamata las. Meskipun memiliki lapisan film, kata Andi, kacamata las ini bersifat menyerap sinar matahari ke mata kita sehingga dapat membahayakan retina mata.

Kedua, mengamati gerhana melalui pantulan air. “Karena apa? karena meskipun saat gerhana matahari itu intensitasnya mulai berkurang tapi masih ada sedikit radiasi elektromagnetik yang dipantulkan dari permukaan air ke mata kita. Nah, pantulan ini juga yang bisa merusak bola mata kita,” kata Andi.

Apa arti gerhana matahari hibrida bagi riset antariksa di Indonesia?

Para peneliti BRIN akan memanfaatkan momen langka ini untuk mengadakan riset tentang korona, atau lapisan atmosfer matahari, yang hanya bisa dilihat saat terjadi gerhana.

Mereka juga akan mempelajari dampak gerhana matahari pada teknologi satelit seperti satelit komunikasi dan satelit navigasi.

Sementara di Bumi, peneliti BRIN akan mengamati perilaku hewan pada saat gerhana. Ketika langit menjadi gelap akibat gerhana, hewan-hewan yang biasanya aktif di malam hari (nokturnal) akan aktif.

“Jadi dengan adanya riset matahari saat gerhana tanggal 20 besok diharapkan akan muncul pengetahuan-pengetahuan baru yang memang selama ini belum terungkap atau memang sebenarnya sudah terungkap namun karena momennya sangat langka, jadi baru bisa melakukan riset itu saat ini,” kata Andi.

[removed]!function(s,e,n,c,r){if(r=s._ns_bbcws=s._ns_bbcws||r,s[r]||(s[r+"_d"]=s[r+"_d"]||[],s[r]=function(){s[r+"_d"].push(arguments)},s[r].sources=[]),c&&s[r].sources.indexOf(c)<0){var t=e.createElement(n);t.async=1,t.src=c;var a=e.getElementsByTagName(n)[0];a[removed].insertBefore(t,a),s[r].sources.push(c)}}(window,document,"script","https://news.files.bbci.co.uk/ws/partner-analytics/js/fullTracker.min.js","s_bbcws");s_bbcws('syndSource','ISAPI');s_bbcws('orgUnit','ws');s_bbcws('platform','partner');s_bbcws('partner','tribunnews.com');s_bbcws('producer','indonesian');s_bbcws('language','id');s_bbcws('setStory', {'origin': 'optimo','guid': 'cgr1rl93g76o','assetType': 'article','pageCounter': 'indonesia.articles.cgr1rl93g76o.page','title': 'Gerhana matahari hibrida: Di mana dan kapan terjadi, serta hal-hal yang perlu Anda ketahui','published': '2023-04-19T00:15:16.888Z','updated': '2023-04-19T00:15:16.888Z'});s_bbcws('track','pageView');[removed]

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini