Across the Spider-Verse juga memperluas paletnya untuk mencerminkan luasnya seni buku komik, menggunakan perjalanan kaleidoskopiknya ke berbagai alam semesta di multiverse untuk melangkah lebih jauh melampaui tekstur semesta pertama, dengan menambahkan metode seniman yang berbeda. Yang pertama kita lihat adalah alam semesta Gwen Stacy/Spider-Woman, yang mengacu pada sapuan kuas ekspresif Robbi Rodriguez pada komik Spider-Gwen 2015.
Ini adalah salah satu upaya Powers, Dos Santos, dan Thompson dalam memasukkan identitas lebih banyak seniman ke dalam film.
Contoh lain, para sutradara mengutip teknik penintaan salah satu pencipta Spider-Man 2099, Rick Leonard, selama pengembangan visual Spider-Man 2099 (disuarakan oleh Oscar Isaac). Film itu juga memunculkan versi Ben Reilly, alias Scarlet Spider, yang rancangan awalnya dibuat seniman Tom Lyle sambil berkelakar soal komik tahun 1990-an.
Jika Spider-Verse pertama menyalurkan kecintaan pada tekstur media komik pada proses pembuatan film, Across the Spider-Verse melihat perkembangannya selama beberapa dekade. Dan melalui narasinya, film tersebut berpikir tentang perlunya terus berubah, mempertanyakan kesesuaian pada kisah pahlawan super dan kiasan bertahun-tahun.
Sementara itu, The Spot yang merupakan tokoh penjahat utama dalam Across the Spider-Verse adalah ekspresi sempurna dari ketidaksempurnaan tangan seniman film tersebut.
The Spot dan Spider-Man 2099 mempertahankan garis sketsa geometris, sengaja menggantungnya seperti gambar yang belum selesai. Namun, The Spot punya keunikan sendiri, yaitu penampilan putihnya yang tertutup bercak gelap terlihat seperti halaman yang kena tumpahan tinta.
Kesan ketidaksempurnaan itulah yang dibangun ke dalam karakter. Tokoh The Spot didorong oleh kemarahan karena menjadi lelucon kosmik yang kejam, hasil sampingan yang tidak disengaja dari petualangan orang lain.
Saat dia dan Miles terpental di antara alam semesta yang sangat bervariasi dari film sekuelnya, menjadi jelas bahwa ketidaksesuaian visual Across the Spider-Verse adalah tematik, ekspresi penolakan Miles untuk menyesuaikan diri dengan kotak narasi yang coba ditempatkan oleh guru sekolahnya dan sesama Spider-People di sekelilingnya.
Seringkali, film-film pahlawan super kontemporer cukup dengan mengangkat alur cerita dari buku komik, dengan sedikit roh karakter-karakter di dalamnya. Tapi film-film Spider-Verse benar-benar menghormati roh karakter-karakter dalam buku komik.
Tentu saja ini bukan satu-satunya cara untuk mengadaptasi buku komik dengan baik. Tapi untuk saat ini, film tersebut adalah yang paling sesuai dengan semangat media komik, dan bukti potensi animasi yang ekspresif.
Itu karena visual Spider-Verse bukan hanya pelengkap cerita – tapi juga bagian dari cerita. Memang, mereka tampaknya telah menyalakan api orang-orang yang tepat di Hollywood, menandai booming pendekatan beragam untuk film-film animasi baru-baru ini seperti The Mitchells Versus the Machines, Puss in Boots: The Last Wish dan Turtles: Mutant Mayhem (beberapa di antaranya memiliki kru yang sama dengan film Spider-Verse).
Kedua film Spider-Verse – yang akan diakhiri dengan film ketiga Maret mendatang – juga mengingatkan bahwa penulis hanyalah setengah dari apa yang membuat buku komik.
Ingatlah para juru warna, juru tinta, juru aksara, dan pembuat sketsa memiliki otoritas yang sama besarnya atas penggambaran karakter-karakter ini seperti halnya para penulis. Ketika begitu banyak film hanya memperlakukan buku komik sebagai wadah untuk kekayaan intelektual, film Spider-Verse sekali lagi keluar dari formula, merangkul potensi sebenarnya dari film buku komik.
Artikel ini dapat dibaca dalam versi bahasa Inggris dengan judul Why the Spider-Verse films are the greatest comic book movies ever made di BBC Culture.
[removed]!function(s,e,n,c,r){if(r=s._ns_bbcws=s._ns_bbcws||r,s[r]||(s[r+"_d"]=s[r+"_d"]||[],s[r]=function(){s[r+"_d"].push(arguments)},s[r].sources=[]),c&&s[r].sources.indexOf(c)<0){var t=e.createElement(n);t.async=1,t.src=c;var a=e.getElementsByTagName(n)[0];a[removed].insertBefore(t,a),s[r].sources.push(c)}}(window,document,"script","https://news.files.bbci.co.uk/ws/partner-analytics/js/fullTracker.min.js","s_bbcws");s_bbcws('syndSource','ISAPI');s_bbcws('orgUnit','ws');s_bbcws('platform','partner');s_bbcws('partner','tribunnews.com');s_bbcws('producer','indonesian');s_bbcws('language','id');s_bbcws('setStory', {'origin': 'optimo','guid': 'cp9dp7mvez4o','assetType': 'article','pageCounter': 'indonesia.articles.cp9dp7mvez4o.page','title': 'Spider-Verse: Inikah film adaptasi buku komik terbaik?','author': 'Kambole Campbell - BBC Culture','published': '2023-07-01T08:49:08.315Z','updated': '2023-07-01T08:49:08.315Z'});s_bbcws('track','pageView');[removed]
Baca tanpa iklan