News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Palestina Vs Israel

Kapal Fregat Jerman Tembak Jatuh 2 Drone Houthi di Laut Merah

Penulis: Mikael Dafit Adi Prasetyo
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kapal perang Hessen milik Angkatan Laut Jerman yang menembak jatuh dua drone Houti di Laut Merah.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, BERLIN – Sebuah kapal fregat Jerman menembak jatuh 2 pesawat tak berawak (drone) di Laut Merah seiring dengan meningkatnya serangan oleh kelompok Houthi Yaman dan upaya Uni Eropa untuk melindungi pelayaran internasional

Menurut Kementerian Pertahanan Jerman, kapal fregat “Hessen” yang dioperasikan Angkatan Laut Jerman menembak jatuh drone tersebut dalam waktu 20 menit setelah masing-masing drone ditembakkan dari arah Yaman.

“Mereka dikenali oleh sistem radar dan memiliki jangkauan yang berbeda. Itu sebabnya dua senjata berbeda digunakan,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Jerman.

Jerman dan beberapa negara Eropa turut berpartisipasi dalam misi keamanan di Laut Merah yang dipelopori oleh Uni Eropa.

Misi tersebut bertujuan untuk menciptakan keamanan navigasi bagi kapal-kapal komersial yang akan melintasi Laut Merah.

Baca juga: Houthi Rekrut 200 Ribu Pasukan Tambahan, Siap Gempur Kapal-kapal Israel di Laut Merah

Serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah membuat biaya pengiriman meningkat. Waktu pengiriman kargo juga terpengaruh karena kapal harus memutar melewati jalur lain.

Houthi, yang menguasai wilayah terpadat di Yaman, mengirimkan pemberitahuan resmi kepada pejabat pelayaran dan perusahaan asuransi tentang apa yang mereka sebut larangan terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel, Amerika Serikat, dan Inggris untuk berlayar di laut sekitar.

Baca juga: Houthi Akan Setop Serangan ke Laut Merah Jika Israel Hentikan Agresi di Gaza

CEO 18 Insurance, Sebastian Hov mengatakan larangan dan serangan yang sedang berlangsung dapat menyebabkan perluasan wilayah yang dianggap tidak aman untuk navigasi laut, semakin membatasi kapasitas asuransi dan meningkatkan premi bagi kapal yang beroperasi di atau dekat wilayah tersebut.

“Meningkatnya biaya asuransi, serta pengalihan kapal ke rute yang lebih panjang untuk menghindari daerah berisiko tinggi, akan membebani rantai pasokan global,” katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini