News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Palestina Vs Israel

Erdogan: RS Turki Tampung 1.000 Milisi Hamas, Bantu Perawatan Percepat Kemenangan Palestina

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Atas tindakan Israel ke Palestina, Turki telah menghapus Israel dari daftar negara target ekspornya.

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, ISTANBUL – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengklaim lebih dari 1.000 anggota kelompok militan Hamas telah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit (RS) di seluruh Turki sejak perang Hamas-Israel Pecah pada Oktober silam.

Akses perawatan tersebut sengaja diberikan Erdogan sebagai bentuk dukungan Turki untuk mempercepat proses kemenangan Palestina atas invasi Israel.

“1.000 anggota kelompok militan Palestina Hamas dirawat di rumah sakit di seluruh Turki, saya tegaskan bahwa Hamas adalah gerakan perlawanan buka teroris,” ujar Erdogan dikutip dari Al Arabiya.

Baca juga: Cekcok Mesir-Israel Makin Menjadi-jadi, Kairo Tegaskan Israel Haram Kuasai Perlintasan Rafah

Tak berselang lama setelah pernyataan tersebut dirilis Erdogan, seorang pejabat Turki yang enggan disebutkan namanya mengklarifikasi maksud Erdogan tentang lebih dari 1.000 milisi Hamas yang dirawat di RS Turki merujuk pada warga Palestina dari Gaza secara umum, bukan anggota Hamas.

“Presiden Erdogan salah bicara, yang dia maksud adalah 1.000 warga Gaza yang dirawat, bukan anggota Hamas,” kata pejabat Turki tersebut.

Dukungan Turki untuk Palestina

Turki menjadi salah satu negara yang paling vokal menyerukan tuntutan gencatan senjata.

Tak sampai di situ untuk mendukung hak-hak warga Palestina, Erdogan bahkan menolak rencana pembentukan zona penyangga pasca perang yang digagas Israel.

“Saya bahkan menganggap perdebatan mengenai rencana (zona penyangga) ini tidak menghormati saudara-saudara saya di Palestina. Bagi kami, ini bukanlah rencana yang dapat diperdebatkan, dipertimbangkan, atau didiskusikan," tegas Erdogan.

Untuk memprotes tindakan yang dilakukan PM Netanyahu dan pasukannya, Turki menghapus Israel dari daftar negara target ekspornya. Imbas pemutusan tersebut semua transaksi dan kerja sama impor dan ekspor terkait dengan Israel resmi dihentikan mulai awal Mei lalu.

Menurut data resmi, perdaganga n Turki-Israel sendiri bernilai 7 miliar dolar AD atau senilai Rp 111,7 triliun (kurs Rp 15.968) tahun lalu.

Israel bahkan masuk di antara 20 tujuan teratas untuk ekspor Turki, membeli barang dan jasa senilai 5,4 miliar dolar AS (Rp 86,23 triliun).

"Turki akan secara ketat dan tegas menerapkan langkah-langkah baru ini sampai pemerintah Israel mengizinkan aliran bantuan kemanusiaan yang tidak terputus dan memadai ke Gaza," ucap Erdogan.

Erdogan menegaskan semua kerjasama perdagangan dengan Israel akan dihentikan sampai negara tersebut berkomitmen untuk menghentikan penyerangan terhadap Gaza dan tercapainya perjanjian gencatan senjata.

Selain menjatuhkan sanksi ke Israel, Erdogan juga aktif mengkritik negara-negara Barat yang mendukung Israel seperti AS dan Inggris.

Pada gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konsultasi Cendekiawan Muslim Dunia Pimpinan tertinggi di Turki dengan lantang mengecam tindakan AS-Inggris, ia menilai AS dan Eropa tidak melakukan hal yang cukup untuk menekan Israel agar menyetujui gencatan senjata di Jalur Gaza. Sebaliknya ia memuji langkah Hamas dalam menerima proposal dari Qatar dan Mesir.

“Hamas telah mengambil langkah yang sangat penting menuju gencatan senjata permanen. Namun, respons pemerintahan Netanyahu adalah menyerang orang-orang tak berdosa di Rafah,” katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini