News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Palestina Vs Israel

Viral Aksi Rashida Tlaib di Pidato Netanyahu, Anggota Dewan AS Penggelar Spanduk Protes selama Orasi

Penulis: Bobby W
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Anggota DPR AS Rashida Tlaib, dari Partai Demokrat perwakilan dapil Michigan, melakukan protes selama pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada pertemuan gabungan Kongres di US Capitol pada Rabu (24/7/2024), di Washington, DC.

TRIBUNNEWS.COM - Sosok anggota dewan asal Michigan, Rashida Tlaib mendadak viral dalam pidato Benjamin Netanyahu di hadapan sidang bersama Kongres AS pada hari Rabu (24/7/2024) malam waktu setempat.

Hal ini terjadi setelah pidato Perdana Menteri Israel tersebut disambut dengan protes pribadi di ruang sidang oleh Rashida yang merupakan satu-satunya anggota Kongres Amerika keturunan Palestina

Rashida Tlaib yang merupakan politisi progresif terkemuka dari Partai Demokrat ini  mengangkat spanduk bertuliskan "war criminal" ketika Netanyahu sedang berbicara.

Sisi lain dari spanduknya yang ditampilkan selama pidato kontroversial di Washington bertuliskan "Guilty of genocide."

Dia juga mengenakan pin bendera Palestina dan keffiyeh, syal hitam putih yang terkait dengan perjuangan Palestina selama lebih dari setengah abad.

Aksi Rashida Tlaib ini pun viral karena sosoknya tampak terlihat kontras bila dibandingkan dengan mayoritas anggota parlemen yang hadir di Pidato Netanyahu dan memberikan standing ovation kepada sang perdana menteri Israel tersebut.

Dalam acara pidato Netanyahu tersebut Tlaib didampingi oleh Hani Almadhoun, seorang warga Palestina yang telah kehilangan lebih dari 150 anggota keluarganya sejak Israel melancarkan agresi militer pada Oktober lalu.

"Pasca menyaksikan saudara perempuannya dipaksa makan pakan hewan, ia dan keluarganya bertekad untuk memulai dapur umum untuk memberi makan tetangga-tetangga mereka yang kelaparan," tulis Rashida Tlaib di X, menjlaskan alasannya mengundang Hani Almadhoun dalam acara tersebut.

Melalui akun X miliknya, Rashida juga menjelaskan maksud dan tujuan dari protesnya tersebut.

"Saya tidak akan pernah mundur dalam menyampaikan kebenaran kepada pihak yang berkuasa." bukanya dalam cuitan tersebut.

"Pemerintah apartheid Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina. Palestina tidak akan terhapuskan. Solidaritas dengan semua orang yang berada di luar tembok ini di jalan-jalan yang memprotes dan menggunakan hak mereka untuk berbeda pendapat." pungkas Rashida

Rashida Tlaib melakukan protes selama pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada pertemuan gabungan Kongres di US Capitol pada Rabu (24/7/2024) (x/RashidaTlaib)

Baca juga: Netanyahu Geram Didemo Ribuan Orang Saat Pidato di Gedung Capitol AS, Tuduh Iran Danai Para Pendemo

Tak sendirian memprotes Netanyahu, protes yang dilakukan oleh Rashida Tlaib ini juga ditunjukkan oleh sesama rekannya yang menentang Israel dengan cara atau metode yang berbeda.

Dalam konferensi pers sebelum acara pidato kenegaraaan tersebut, koalisi progresif, advokat hak asasi manusia, anggota Kongres Demokrat, dan beberapa mantan pejabat dalam administrasi Biden berkumpul untuk mengecam undangan Netanyahu ke Capitol Hill.

Mereka menyerukan embargo senjata AS terhadap Israel dan menuntut gencatan senjata.

Anggota DPR dari Partai Demokrat Ayanna Pressley asal Massachusetts, Greg Casar asal Texas, Pramila Jayapal asal Washington, dan Cori Bush asal Missouri bergabung dalam panggilan tersebut.

Mereka termasuk di antara puluhan anggota Kongres Demokrat yang memboikot pidato Netanyahu.

"Perang ini, genosida ini, telah berlangsung selama bulan-bulan ketika Amerika Serikat terus mengirimkan bom yang telah merenggut nyawa para lansia, bayi, orangtua, murid, jurnalis, dan orang-orang yang dicintai," kata Pressley dalam konferensi pers tersebut.

"Amerika Serikat harus segera menghentikan transfer dana dan penjualan senjata ke negara Israel. Kita harus mengakhiri perang yang tidak adil ini. Kita harus menghentikan genosida." lanjutnya.

(tribunnews.com/Bobby)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini