News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Trump Terapkan Tarif Timbal Balik

Perang Tarif AS-Tiongkok, Strategi Bertahan Beijing Disebut Picu Risiko Ekonomi

Editor: Wahyu Aji
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PERANG DAGANG AS-CHINA - Ilustrasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Beijing mengancam akan melawan habis-habisan kebijakan tarif baru Trump, merujuk pada pengenaan tarif impor baru oleh Presiden AS, Donald Trump terhadap produk negara Tirai Bambu tersebut.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tiongkok merasakan panasnya perang tarif dengan Amerika Serikat (AS), namun bagaimana dengan sikap Presiden Xi Jinping.

Pasar saham negara itu sedang terpuruk, dan sikap Partai Komunis Tiongkok (PKT) berisiko memperdalam kemerosotan ekonomi. 

Dikutip dari Financial Post, Kamis (15/5/2025), stimulus awal Tiongkok dinilai tidak banyak memberikan kelegaan, dan Beijing ragu-ragu untuk meluncurkan langkah-langkah baru.

Mereka seolah bertaruh bahwa Washington akan mengalah. 

Namun, saat pasar global berguncang dan ketegangan politik meningkat, taruhannya semakin tinggi.

Akankah Tiongkok mempertahankan pendiriannya, mempertaruhkan ketahanan, atau menerima bahwa kompromi diperlukan?

Pendekatan PKT yang teguh dapat menimbulkan biaya yang besar, yakni ketidakstabilan keuangan, dan dunia akan terus mengamati di saat Beijing mempertimbangkan langkah-langkah selanjutnya.

Kemerosotan Saham di Awal Tahun

Pada 28 April 2025, pasar saham Tiongkok mengalami kemerosotan signifikan. Hal ini dinilai memperkuat kekhawatiran tentang ketidakstabilan ekonomi. 

Indeks Komposit Shanghai turun 0,2 persen, Indeks Komponen Shenzhen turun 0,62%, dan indeks ChiNext turun 0,65%. Lebih dari 4.100 saham mencatat kerugian, dengan real estat mengalami pukulan tajam sebesar 3%.  

Investor tetap berhati-hati karena Beijing menahan diri untuk tidak menerapkan langkah-langkah stimulus yang berani, yang memperkuat kekhawatiran akan strategi ekonomi yang tidak pasti. Keraguan ini memicu spekulasi tentang pendekatan jangka panjang Tiongkok terhadap ketahanan finansial dan pemulihan pasar.

Tantangan fiskal Tiongkok semakin dalam pada kuartal pertama, karena belanja pemerintah tumbuh sebesar 4,2% tahun-ke-tahun sementara pendapatan menurun sebesar 1,1%. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan defisit fiskal tertinggi sebesar 1,26 triliun yuan ($173 miliar). 

Untuk mengurangi tekanan keuangan, pemerintah daerah mempercepat pinjaman, menerbitkan hampir 1 triliun yuan dalam bentuk obligasi khusus—peningkatan yang mengejutkan sebesar 60?ri tahun sebelumnya. 

Stabilitas dan Ketahanan Ekonomi

Sementara itu, Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) turun tangan, meningkatkan alokasi pinjaman kepada investor milik negara untuk menstabilkan pasar saham. Meski ada intervensi ini, ketidakpastian ekonomi tetap ada.

Penasihat kebijakan memperingatkan bahwa tindakan tambahan mungkin diperlukan, namun Beijing tetap berhati-hati, menolak inisiatif stimulus yang besar-besaran. 

Ketika kendala keuangan semakin ketat, Tiongkok menghadapi pilihan sulit tentang menyeimbangkan stabilitas dan ketahanan ekonomi dalam lanskap global yang terus berkembang.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini