Ia menyebut pengangkatan ini sebagai "pesan yang kuat”. Seorang romo dengan latar belakang non-Eropa ditahbiskan menjadi uskup gereja Katolik di Jerman pada Minggu (15/03 ). Joshy George Pottackal adalah seorang biarawan Ordo Karmelit asal India yang kini bertugas sebagai uskup pembantu di Keuskupan Mainz.
Sejak menjalankan tugas baru sebagai uskup, ia kerap mendengar seruan dari orang-orang berlatar belakang migran, "Akhirnya! Terlihat bahwa kami juga merupakan bagian dari Gereja Katolik di Jerman," kata pria berusia 48 tahun itu dalam wawancara kepada DW. Baginya, hal tersebut memberikan "motivasi yang luar biasa." Ada begitu banyak umat Kristen dengan latar belakang migran di Jerman.
Bagi Keuskupan Mainz yang terletak di barat daya Jerman, ini adalah penahbisan yang telah lama dinantikan, yaitu upacara keagamaan yang meriah untuk mengangkat seorang uskup pembantu yang ke depannya akan meringankan beban uskup utama.
Istilah dalam bahasa Inggris lebih mudah dipahami daripada istilah yang biasa digunakan dalam bahasa Jerman: "Auxiliary bishop" berarti uskup pembantu sedang "Diocesan bishop" adalah sebutan untuk uskup utama. Sebelumnya Pottackal telah bekerja sebagai penasihat personalia di keuskupan. Ke depannya ia juga akan mengunjungi paroki, memberikan sakramen krisma (penguatan iman), dan mewakili Gereja Katolik secara resmi.
Ini merupakan langkah bersejarah bagi Gereja Katolik di Jerman, hampir seperti sebuah sensasi. Yang menjadi uskup Katolik di Jerman hingga saat ini, biasanya berasal dari keluarga kelas menengah Jerman. Pottackal adalah uskup pembantu pertama yang lahir di luar Eropa.
Jutaan umat Katolik dengan latar belakang migran
Di kalangan umat Katolik di Jerman, gambaran yang berbeda telah lama terlihat. Menurut data Konferensi Waligereja Jerman, terdapat sekitar 3,4 juta umat Katolik di Jerman yang memiliki setidaknya satu kewarganegaraan asing dari total 20 juta penganut agama Katolik di Jerman.
Banyak keuskupan yang mencatat perkiraan penganut agama Katolik dengan bahasa ibu yang bukan berbahasa Jerman. Keuskupan Agung Köln menyebutkan seperlima dari jemaatnya berbahasa ibu di luar bahasa Jerman, Keuskupan Fulda dan Mainz masing-masing 25 persen, sedangkan Limburg hampir 35 persen.
Mengingat jumlah pemuda yang ingin menjadi imam Katolik di Jerman telah menurun drastis, jumlah imam atau biarawan yang diundang oleh keuskupan-keuskupan Jerman atau datang ke Jerman atas inisiatif sendiri pun meningkat.
Ratusan di antaranya berasal dari India dengan jumlah yang serupa dari negara-negara Afrika. Baru beberapa minggu yang lalu, para biarawati India mendirikan susteran barudi Münster.
Pottackal menceritakan bahwa Provinsi Karmelit India dulunya didirikan oleh Provinsi Karmelit Jerman. Kini, situasinya berbalik. Ia dan anggota-anggota Ordo India lainnya yang bertugas di Jerman menyebut Jerman sebagai "negeri misi".
Jerman, negeri para migran
Pottackal telah tinggal di Jerman selama lebih dari 20 tahun. Bagi banyak orang di keuskupan, ia dikenal sebagai Pastor Joshy. Ia telah lama memiliki paspor Jerman dan memahami keadaan sosial di negara ini.
"Dalam situasi saat ini, di mana masyarakat terpolarisasi dan cenderung ada penolakan terhadap orang-orang dengan latar belakang migrasi, ini merupakan pesan yang kuat," katanya setelah penahbisannya. Gereja menunjukkan bahwa keragaman itu penting baginya. Hal ini juga menunjukkan bahwa Jerman adalah negeri para imigran.
Uskup Mainz Peter Kohlgraf, yang mengusulkan jabatan uskup pembantu untuk Pottackal pada November 2025 lalu mengatakan hal ini sebagai "pesan yang kuat dan penting di zaman ini."
Gereja Katolik adalah Gereja Sedunia. "Tidak ada orang asing di Gereja ini.” Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Paus Leo XIV, yang juga merupakanseorang imam ordo asal AS dengan pengalaman pastoral bertahun-tahun di Peru, telah menunjuk beberapa uskup dengan latar belakang imigran sejak terpilih pada Mei 2025.
Apa yang dapat dipelajari paroki-paroki di Jerman dari seorang uskup yang memiliki pengalaman sebagai imigran? Joshy Pottackal, yang suka tertawa dan memancarkan keramahan, langsung menjawab. "Fleksibilitas," kata biarawan itu sembari memberi contoh persiapan pesta paroki di Jerman.
Baca tanpa iklan