Belanja militer Jepang mencapai 62,2 miliar dolar AS (Rp1,07 kuadriliun) pada 2025, naik 9,7?ri 2024. Kenaikan ini mendukung rencana penguatan militer yang diluncurkan pada tahun 2022. Hal ini didorong oleh kekhawatiran keamanan terhadap Cina dan Korea Utara. Perluasan program rudal dan drone menandakan pergeseran besar. Jepang berpotensi menjadi negara dengan pengeluaran militer terbesar di dunia.
India menjadi negara dengan belanja militer terbesar kelima di dunia pada 2025. Anggaran pertahanannya naik 8,9% menjadi 92,1 miliar dolar AS (Rp1,59 kuadriliun). Ketegangan dengan Cina menjadi faktor utamanya. Namun, Cina bukan satu-satunya faktor, kata Liang. "Ada juga perang antara India dan Pakistan pada 2025. Itu adalah faktor besar, dan mereka berinvestasi besar-besaran dalam bidang dirgantara dan drone, yang banyak digunakan dalam konflik itu."
Dampak luas militerisasi
Belanja militer suatu negara sebagai bagian dari perekonomiannya, yang sering disebut beban militer, menunjukkan seberapa besar pendapatan masyarakat diarahkan untuk pertahanan, bukan untuk kebutuhan lain. Ini adalah salah satu cara paling jelas untuk membandingkan biaya ekonomi riil dari belanja militer antarnegara.
Beban ini meningkat menjadi sekitar 2,5?ri PDB global pada 2025, angka tertinggi sejak 2009. Artinya, pemerintah tidak hanya membelanjakan lebih banyak dalam nilai absolut, tetapi juga mengalokasikan porsi yang lebih besar dari output ekonomi mereka untuk keperluan militer.
Pergeseran itu berdampak lebih luas daripada sekadar kebijakan keamanan. "Ini akan memengaruhi bidang-bidang pengeluaran publik lainnya," kata Liang. "Pemerintah mungkin akan memangkas layanan sosial atau bantuan pembangunan. Jadi, ini bukan hanya tentang perang dan senjata, ini akan berdampak besar bagi seluruh lapisan masyarakat."
Artikel ini diadaptasi dari DW bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Hani Anggraini
Baca tanpa iklan