News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Di Balik Kedekatan Taliban dan Rusia

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Di Balik Kedekatan Taliban dan Rusia

Menteri Pertahanan sementara pemerintahan Taliban, Mullah Muhammad Yaqoob, tiba di Kabul pekan lalu setelah kunjungan ke Moskow dengan membawa peringatan bagi Pakistan.

Dia menyatakan, jiran yang dimusuhi itu "tidak akan lagi berani" menyerang wilayahAfganistan dalam waktu dekat, merujuk pada perjanjian kerja sama militer-teknis yang baru saja ditandatangani di Moskow. Yaqoob juga menegaskan bahwa implementasi kesepakatan dengan Rusia akan segera dimulai.

Di saat yang sama, Yaqoob berupaya meredam kekhawatiran internasional terkait kerja sama militer antara Taliban dan Rusia. Dia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bukanlah pakta pertahanan atau keamanan, melainkan berfokus pada perbaikan dan pemeliharaan sistem persenjataan buatan Rusia yang telah dimiliki Afganistan, termasuk helikopter dan pesawat lainnya.

Dia bahkan menyebut kemungkinan kerja sama serupa juga dapat dilakukan dengan Amerika Serikat (AS), dengan alasan bahwa sejumlah persenjataan AS masih tertinggal di Afganistan pasca penarikan pasukan NATO.

Pesan ganda ini merupakan penangkalan terhadap Pakistan sekaligus mencerminkan bagaimana Taliban serta pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin membingkai hubungan yang kian berkembang. Hubungan tersebut diposisikan bukan sebagai aliansi ideologis, melainkan kerja sama pragmatis yang memberi keuntungan langsung bagi kedua pihak.

Namun hingga kini, rincian lengkap dari kesepakatan tersebut belum dipublikasikan.

Kesepakatan senjata Rusia-Taliban dan batasannya

Utusan khusus Rusia untuk Afganistan, Zamir Kabulov, menyatakan bahwa kerja sama itu berfokus pada perbaikan peralatan militer buatan Rusia dan berpotensi membuka jalan bagi kontrak pertahanan di masa mendatang. Namun, untuk saat ini, prioritas utamanya adalah memulihkan sistem persenjataan yang sudah dimiliki Afganistan.

Pasukan Soviet menginvasi Afganistan pada akhir 1979 dan bertahan selama sekitar satu dekade demi menopang rezim boneka. Sejumlah sistem persenjataan yang mereka tinggalkan masih bertahan dan digunakan hingga saat ini.

Setelah 2001, Amerika Serikat dan NATO juga mengandalkan helikopter buatan Rusia, khususnya Mi-17, dalam membangun angkatan udara Afganistan. Penggunaan ini dipilih karena pilot dan teknisi Afganistan telah terbiasa mengoperasikannya, serta karena helikopter tersebut dinilai sesuai dengan kondisi medan yang berat.

Waktu kesepakatan Rusia-Taliban jadi sorotan?

Pernyataan Menteri Pertahanan sementara Taliban, Mullah Muhammad Yaqoob, muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Afganistan dan Pakistan. Ketegangan tersebut ditandai dengan insiden saling serang lintas batas serta serangan udara yang terjadi di dalam wilayah Afganistan.

Islamabad berulang kali menuduh Taliban melindungi militan Tehreek-e-Taliban Pakistan. Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Taliban.

Pemerintahan di Kabul disebut tengah berupaya memperkuat kemampuan militernya sekaligus mengirimkan sinyal kepada Pakistan melalui pernyataan tersebut.

Di sisi lain, Rusia dinilai memiliki kepentingan untuk memperkuat perannya sebagai faktor keamanan di kawasan tersebut, di tengah memudarnya pengaruh Barat.

Kantor berita negara Rusia, TASS, melaporkan bahwa Sekretaris Dewan Keamanan Sergei Shoigu menyatakan penolakannya terhadap rencana penempatan pangkalan Amerika Serikat atau NATO serta infrastruktur militer di Afganistan maupun negara-negara sekitarnya.

Hubungan Rusia-Taliban dinilai pragmatis dan berbasis kepentingan

Abas Basir, mantan menteri dalam pemerintahan Afganistan sebelum Taliban kembali menguasai Kabul, menilai hubungan antara Taliban dan Rusia bersifat "pragmatis dan berbasis kepentingan", bukan sebagai aliansi politik yang sesungguhnya.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini