Korea Utara dan Cina kini memiliki "pemahaman bersama yang lebih dalam dan komprehensif," demikian laporan kantor berita resmi Cina, Xinhua. Pernyaataan itu muncul usai Presiden Xi Jinping bertolak dari Pyongyang pada Selasa (09/10) siang setelah menggelar pertemuan puncak dengan Kim Jong Un.
"Arah perkembangan ke depan kini makin jelas dan terarah," kata Xi dalam jamuan makan siang sebelum keberangkatannya, sebagaimana dilaporkan media Xinhua.
Surat kabar resmi Korea Utara, Rodong Sinmun, melaporkan bahwa Xi dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un membahas perluasan kerja sama bilateral dan penguatan komunikasi strategis, sekaligus memperdalam pertukaran di bidang politik, ekonomi, dan budaya.
Namun, di balik pernyataan diplomatik itu, kunjungan pertama Xi ke Korea Utara sejak 2019 ini terjadi di tengah kekhawatiran Beijing yang menyaksikan sekutu lamanya itu perlahan terlihat menjauh. Pyongyang kini kian dekat dengan Rusia di bawah Vladimir Putin, termasuk dengan memasok senjata dan personel sebagai imbalan atas alih teknologi militer dan dukungan lainnya dari Moskow.
"Cina tampaknya sedang berusaha menghidupkan kembali dan meningkatkan hubungan yang oleh banyak pengamat sudah dianggap sekadar simbolis," kata Han Ki-bom, mantan wakil direktur Badan Intelijen Nasional (NIS) Korea Selatan, kepada DW.
Ia menambahkan bahwa kunjungan Xi juga bertujuan sebagian untuk mengurangi ketergantungan Korea Utara yang semakin besar terhadap Rusia, di tengah kekhawatiran Beijing atas semakin eratnya kerja sama militer Pyongyang dengan Moskow sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.
"Kunjungan ini lebih dari sekadar perbaikan hubungan bilateral," kata Han.
"Jika pertemuan Xi dan Kim pada 2019 sebagian besar berfokus pada pemulihan dan penguatan hubungan bilateral, pertemuan pekan ini mengisyaratkan bahwa Beijing semakin memandang Korea Utara sebagai mitra strategis dalam menghadapi tantangan internasional dan regional yang lebih luas," tambahnya.
Nuklir Korea Utara tak disinggung
Sembari memasok kebutuhan perang Rusia di Ukraina, Korea Utara juga terus mengembangkan program senjata nuklirnya dan menguji berbagai rudal balistik dalam beberapa tahun terakhir.
Cina selama ini menentang pengembangan nuklir Korea Utara, termasuk dengan mendukung sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB yang menjatuhkan sanksi kepada Pyongyang atas uji coba nuklirnya.
Posisi resmi Cina yang mendukung denuklirisasi Semenanjung Korea demi mencegah ketidakstabilan kawasan, jadi salah satu dari sedikit isu di mana Beijing dan Washington berdiri di pihak yang sama. Sebelumnya, para pejabat Cina dan Amerika Serikat juga kembali menegaskan dukungan mereka terhadap denuklirisasi dalam sejumlah pertukaran diplomatik terakhir.
Namun, baik Rodong Sinmun maupun media pemerintah Cina tidak menyinggung sama sekali soal program nuklir Korea Utara, atau denuklirisasi dalam laporan mereka tentang pertemuan puncak kedua negara itu.
Sebelum kunjungan Xi, Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan bahwa denuklirisasi Korea Utara "tidak akan pernah terjadi." Pada Minggu (07/06), Kim Yo Jong, adik perempuan Kim Jong Un yang dikenal sangat berpengaruh, menyatakan bahwa status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir adalah "batas yang tidak bisa diganggu gugat."
Han mengatakan, Beijing kini makin menghindari pembahasan isu denuklirisasi secara terbuka kepada Pyongyang.
"Cina tidak secara resmi mengakui Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir," katanya. "Namun, dengan tidak lagi menekankan denuklirisasi, Beijing secara efektif sedang menoleransi kenyataan program nuklir Korea Utara," tambahnya.
Kim Hyung Suk, mantan wakil menteri unifikasi Korea Selatan, menilai kunjungan ini dirancang untuk menunjukkan bahwa Cina dan Korea Utara tetap menjalin kemitraan strategis.
"Isu denuklirisasi Korea Utara sengaja dihilangkan dari pembicaraan, sementara kerja sama politik, militer, dan ekonomi justru ditonjolkan," kata Kim.
Menuju poros Cina-Korea Utara?
Mantan juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan, Jeong Joon-hee, mengatakan kepada DW bahwa Pyongyang mungkin tengah berupaya memanfaatkan kekhawatiran Cina atas eratnya hubungan Korut-Rusia untuk mendapatkan pengakuan diam-diam atas statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.
Di saat yang sama, Beijing bisa memandang Korea Utara yang kian percaya diri sebagai mitra strategis yang lebih kuat ke depannya.
"Patut dicatat bahwa penguatan aliansi militer Cina-Korea Utara menawarkan keuntungan tersendiri," kata Jeong.
"Ini memungkinkan Korea Utara menggunakan kemampuan nuklirnya untuk menangkal AS jika terjadi krisis Taiwan. Secara ekonomi, ini mengamankan akses Cina ke Laut Jepang melalui Korea Utara, sekaligus mendorong pembangunan kawasan timur laut Cina," tambahnya.
Sementara, Han mencatat bahwa pernyataan-pernyataan resmi berulang kali menekankan "kerja sama strategis" dan koordinasi antara para pemimpin tertinggi kedua negara menjadi bahasa yang mengisyaratkan dimensi geopolitik yang lebih luas dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Apa keuntungan untuk Korea Utara?
"Bagi Korea Utara, membaiknya hubungan dengan Cina bisa memberikan keuntungan ekonomi dan diplomatik yang signifikan," kata Han.
"Pyongyang ingin menghindari ketergantungan eksklusif pada Rusia," ujarnya. "Dengan memperbaiki hubungan sekaligus dengan Beijing dan Moskow, Kim Jong Un bisa memaksimalkan daya tawar Korea Utara dan mengambil keuntungan dari kedua pihak."
Cina tetap menjadi mitra dagang terbesar Korea Utara dan sumber dukungan ekonomi yang krusial, meski sanksi internasional masih berlaku.
Kedua pihak sepakat tidak hanya untuk memperkuat pertukaran politik dan ekonomi, tetapi juga memperluas kerja sama di berbagai sektor, termasuk diplomasi dan koordinasi strategis, kata Jeong.
Ia menambahkan bahwa dukungan Pyongyang atas posisi Beijing soal Taiwan, dan dukungan Cina atas tujuan-tujuan kebijakan Korea Utara, menunjukkan bahwa kedua pemerintah semakin siap saling mendukung kepentingan inti masing-masing.
"Pembahasan ini mengindikasikan bahwa Cina dan Korea Utara sedang berupaya membangun kerangka kerja sama yang lebih luas, melampaui hubungan bilateral tradisional," kata Jeong.
Artikel in pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor Tezar Aditya Rahman
Baca tanpa iklan