Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan, pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan terbang ke Swiss minggu ini dan menandatangani sebuah kerangka kerja kesepakatan yang mengesahkan “penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front.”
Acara resmi itu dijadwalkan akan berlangsung pada hari Jumat (19/06).
Presiden AS Donald Trump juga menegaskan kembali penyataan PM Pakistan itu, dengan mengatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang telah tercapai. Di sisi lain, pejabat Iran juga memberikan sinyal dukungan atas kabar itu dengan hati-hati, meski tidak sepenuhnya menerima semua rincian yang dilaporkan.
Perlu dicatat, Trump juga sebelumnya berulang kali menyapaikan kabar penuh optimisme, tapi berakhir dengan kekecewaan. Begitu juga dengan roposal perdamaian terbaru ini yang masih berpotensi gagal bahkan sebelum mencapai tahap penandatanganan di Swiss.
Banyak poin kesepatakan yang dilaporkan masih belum jelas dan diperdebatkan secara politik, dan bahkan jika Teheran dan Washington memverifikasinya pada hari Jumat, kerangka tersebut dilaporkan masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan krusial. Misalnya, soal sengketa program nuklir Iran, yang baru akan dibahas dalam 60 hari setelah upacara penandatanganan.
Narasi yang saling bertentangan sejak awal
Sumber dari AS dan Iran menyampaikan narasi yang berbeda mengenai isi sebenarnya dari kesepakatan tersebut. Media semi-resmi Iran dan media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran menyebarkan apa yang mereka sebut sebagai draf memorandum 14 poin, termasuk penghentian pertempuran di semua front, pembukaan kembali Selat Hormuz dalam 30 hari, keringanan sanksi parsial, akses ke dana Iran yang dibekukan, serta dua bulan negosiasi lanjutan yang berfokus pada isu nuklir dan sanksi. Rincian ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Televisi pemerintah Iran menggambarkan pengumuman tersebut sebagai sebuah keberhasilan diplomatik. Namun, kelompok garis keras Iran dengan cepat menyerang kesepakatan itu, dan menilai bahwa kesepakatan tersebut memberikan terlalu banyak konsesi tanpa imbalan yang memadai.
Kritik dari kelompok ultrakonservatif melihatnya sebagai langkah mundur yang tidak dapat diterima, sementara pendukung pemerintah menegaskan bahwa kesepakatan ini tetap menjaga prinsip-prinsip dasar dan mencegah terjadinya krisis yang lebih besar.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi baru-baru ini juga meminta media untuk tidak berspekulasi tentang isi memorandum selama proses masih berlangsung. Trump membagikan ulang pesan Araqchi di media sosial dan menyebutnya “sangat positif.” Penyataan itu memperkuat kesan bahwa kedua pihak ingin menunjukkan momentum yang positif tanpa sepenuhnya mengungkapkan draft teks final kesepakatan secara penuh.
Apa yang ingin dicapai AS dan Iran?
Babak Dorbeiki, analis politik berbasis di London dan mantan pejabat di Strategic Research Center Iran, mengatakan bahwa kesepakatan ini tampaknya menawarkan masing-masing pihak keuntungan taktis jangka pendek sambil menunda isu-isu yang lebih sulit ke tahap berikutnya.
“Keuntungan utama bagi Iran adalah berakhirnya blokade angkatan laut AS, keringanan jangka pendek untuk penjualan minyak, dan pernyataan tertulis AS yang menghormati kedaulatan Iran,” katanya kepada DW.
Dorbeiki mengatakan Teheran juga dapat melihat kesepakatan ini sebagai cara bagi rezim untuk menjaga legitimasi domestik dengan menunjukkan bahwa mereka tidak menyerah di bawah tekanan. Namun, ia juga menyoroti hal-hal yang merugikan bagi Iran.
Versi kesepakatan yang diajukan Amerika Serikat tampaknya mengarah pada hasil yang jauh lebih ketat dalam isu nuklir, termasuk penghilangan material uranium yang diperkaya dan pengawasan jangka panjang. Sementara, narasi Iran menunjukkan bahwa pengayaan itu sendiri mungkin masih dapat dipertahankan dalam beberapa bentuk. Dorbeiki mengatakan kedua narasi ini tidak mudah dipadukan.
Menurutnya, keuntungan yang diperoleh Washinton berbeda. Gencatan senjata ini akan mengakhiri operasi militer yang berbiaya mahal, mengurangi tekanan pada pasar energi global, dan berpotensi memperoleh hasil lebih besar dalam isu nuklir dibandingkan kerangka pengendalian senjata yang lebih terbatas.
Namun, ia juga memperingatkan bahwa AS masih menghadapi masalah verifikasi, perpecahan politik internal, dan resistensi dari pihak pro-Israel yang tidak puas dengan kesepakatan apa pun yang tidak menyentuh posisi regional Iran yang lebih luas.
Baca tanpa iklan