TRIBUNNEWS.COM - Sanae Takaichi resmi dilantik sebagai Perdana Menteri baru Jepang pada Selasa (21/10/2025).
Keputusan parlemen menjadikan Takaichi sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah Negeri Sakura, menggantikan Shigeru Ishiba yang mundur pada September lalu.
Dalam sidang di majelis rendah parlemen, Takaichi meraih 237 suara, mengalahkan pesaingnya Yoshihiko Noda dari Partai Demokrat Konstitusional yang memperoleh 149 suara.
Setelah pengesahan, Takaichi dijadwalkan bertemu Kaisar Naruhito untuk upacara pelantikan resmi.
Kemenangan Takaichi bukan sekadar hasil politik, tetapi juga momen bersejarah bagi kesetaraan gender di Jepang, negara yang selama ini didominasi oleh politisi laki-laki konservatif.
Sebagai ketua Partai Demokrat Liberal (LDP), Takaichi menorehkan prestasi gemilang di tengah dunia politik yang keras.
Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, nasionalis, dan berani berbicara blak-blakan.
Banyak analis menyebutnya sebagai “Iron Lady Jepang”, julukan yang mengingatkan pada Margaret Thatcher, pemimpin legendaris Inggris yang juga menjadi idolanya.
Siapa Sanae Takaichi
Takaichi lahir dan besar di Prefektur Nara, wilayah yang dikenal dengan keindahan kuil-kuil dan hutan hijaunya.
Ia tumbuh dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja di pabrik suku cadang mobil, sementara ibunya seorang petugas kepolisian.
Sejak muda, Takaichi dikenal gigih. Saat kuliah di Universitas Kobe pada akhir tahun 1970-an, ia harus menempuh perjalanan hingga enam jam setiap hari dengan bus dan kereta demi menempuh pendidikan.
Wanita berusia 64 tahun ini tak hanya memiliki wibawa politiknya yang tegas, Takaichi memiliki sisi lain yang unik dan tak biasa bagi seorang pemimpin dunia.
Baca juga: Didukung Koalisi LDP–Restorasi, Sanae Takaichi Hampir Dipastikan Jadi PM Jepang
Perjalanannya di dunia politik dimulai pada awal 1990-an. Setelah sempat bekerja sebagai penulis dan pembawa acara televisi, ia mencalonkan diri sebagai anggota parlemen independen dari daerah asalnya dan berhasil menang pada 1993.
Di dunia politik yang didominasi laki-laki, Takaichi sering dianggap berbeda. Namun justru keberaniannya berbicara dan ketegasannya membuat ia menonjol.
Karirnya terus menanjak ketika ia mendapat dukungan dari Shinzo Abe, mantan Perdana Menteri Jepang yang berpandangan nasionalis.
Baca tanpa iklan