TRIBUNNEWS.COM - Ketika Rusia mengklaim kemajuan pasukannya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melaporkan dominasi serangan Rusia di wilayah Pokrovsk.
Sekitar 26–30 persen pertempuran di garis depan dan 50 persen serangan bom udara berpemandu Rusia kini terfokus di sekitar kota Pokrovsk, Oblast Donetsk, menurut laporan Zelenskyy.
"Musuh tidak berhasil dalam beberapa hari terakhir," kata Zelenskyy, seraya menambahkan, "Anda bisa melihat betapa sulitnya bagi tentara kita."
Zelenskyy menyebut sekitar 260–300 tentara Rusia masih berada di Pokrovsk.
Sementara Resimen Serbu ke-425 dan beberapa brigade lainnya bertempur mempertahankan kota itu.
Ia juga melaporkan bahwa operasi pembersihan di Kupiansk masih berlangsung, dan pasukan Ukraina telah merebut 2–3 kilometer wilayah tambahan di sekitar Dobropillia, meski Rusia disebut tengah mempersiapkan serangan balasan.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan tentaranya menghancurkan apa yang digambarkannya sebagai formasi Ukraina yang terkepung di dekat stasiun kereta api dan zona industri Pokrovsk pada hari Senin (3/11/2025).
Rusia mengklaim pasukan Ukraina telah memasuki wilayah Prigorodny di kota itu dan bersembunyi di sana, lapor Reuters.
Update Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia dengan Ukraina memasuki hari ke-1.350 pada Selasa (4/11/2025), memperpanjang perang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Pada tengah malam, dilaporkan adanya ledakan di Pavlohrad, wilayah Dnipropetrovsk.
Baca juga: Ukraina Membalas, Serangan Drone Hantam Kilang Minyak Tertua Rusia Berkapasitas 4,8 Juta Metrik Ton
Angkatan Udara melaporkan adanya UAV yang mendekati kota dari arah timur laut.
Perang antara Rusia dan Ukraina berawal dari ketegangan panjang yang muncul sejak bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991.
Setelah menjadi negara merdeka, Ukraina sering berselisih dengan Rusia terkait persoalan batas wilayah, identitas nasional, serta arah politik—antara mempertahankan kedekatan dengan Moskow atau menjalin hubungan lebih erat dengan negara-negara Barat.
Situasi memuncak pada tahun 2014 ketika Revolusi Maidan menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych, yang dikenal pro-Rusia. Pemerintahan baru Ukraina kemudian memperkuat kerja sama dengan Barat, langkah yang dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan.
Sebagai tanggapan, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk, yang memicu konflik bersenjata di wilayah Donbas.
Baca tanpa iklan