TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bahwa AS dapat menggunakan kekerasan jika ia tidak mundur secara sukarela, menurut Wall Street Journal.
Pernyataan pada hari Sabtu (30/11/2025), itu muncul beberapa jam setelah Trump mengatakan bahwa wilayah udara di atas dan di sekitar negara Amerika Selatan tersebut harus dianggap ditutup seluruhnya.
“Kepada seluruh Maskapai Penerbangan, Pilot, Pengedar Narkoba, dan Pedagang Manusia, mohon pertimbangkan bahwa WILAYAH UDARA DI ATAS DAN DI SEKITAR VENEZUELA DITUTUP SELURUHNYA. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini! PRESIDEN DONALD J. TRUMP,” tulis Trump di Truth Social.
Masih belum jelas apakah Trump mengisyaratkan perubahan kebijakan baru atau hanya menambah tekanan terhadap Maduro.
Pernyataan tersebut muncul setelah berbulan-bulan operasi militer AS di Laut Karibia dan Pasifik timur, di mana pasukan Amerika berulang kali menargetkan kapal-kapal kecil yang dituduh menyelundupkan narkotika.
Lebih dari 80 orang tewas dalam serangan maritim ini sejak awal September.
Dalam beberapa bulan terakhir, AS juga menerbangkan pesawat pengebom strategis di dekat wilayah udara Venezuela dan mengerahkan kapal induk USS Gerald R. Ford ke kawasan tersebut.
Kedatangan kapal induk ini dinilai sebagai unjuk kekuatan terbesar AS di Karibia dalam beberapa dekade.
Misi yang dijuluki “Operasi Southern Spear” kini mencakup hampir selusin kapal Angkatan Laut dan sekitar 12.000 pelaut serta marinir.
Mengapa Trump Mengancam Venezuela dan Nicolás Maduro?
Mengutip HindustanTimes.com, ketegangan antara AS dan Venezuela meningkat drastis pada tahun 2025, ketika Trump mengesahkan pengerahan militer dan serangan udara yang memicu kekhawatiran terjadinya konflik langsung.
Trump sebelumnya berjanji untuk menghentikan peredaran narkoba seperti fentanil selama kampanye 2024.
Sejumlah serangan dilaporkan dilancarkan terhadap dugaan operasi perdagangan narkotika.
Baca juga: Tolak Ajakan Damai Trump, Maduro Tegas: Venezuela Tak Akan Jadi Budak AS
AS juga menegaskan bahwa mereka tidak mengakui Maduro sebagai pemimpin sah Venezuela.
Pada bulan Maret, Trump menandatangani proklamasi yang melabeli organisasi kriminal Venezuela, Tren de Aragua, sebagai Organisasi Teroris Asing.
Proklamasi tersebut menuduh kelompok itu menyusup ke AS dan melancarkan “perang tidak teratur” terhadap komunitas Amerika.
Baca tanpa iklan