TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Rusia secara tegas membantah tudingan bahwa warga negaranya terlibat sebagai tentara bayaran dalam konflik perbatasan yang tengah memanas antara Thailand dan Kamboja.
Bantahan ini disampaikan Kedutaan Besar Rusia di Thailand, Selasa (16/12/2025).
Menyusul beredarnya laporan media lokal yang menyebut adanya dugaan keterlibatan tentara bayaran asing, termasuk warga Rusia, dalam ketegangan tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui akun Facebook Kedutaan Besar Rusia, Moskow menegaskan bahwa klaim tersebut tidak benar dan tidak memiliki dasar fakta.
Kedutaan menyatakan telah mengetahui laporan-laporan yang beredar di sejumlah media Thailand, namun menilai informasi itu bersifat spekulatif dan berpotensi menyesatkan publik.
“Laporan-laporan ini kemungkinan besar dibuat-buat dari sumber non-regional,” demikian pernyataan Kedutaan Rusia, sebagaimana dikutip dari Thaipbs.
Dalam kesempatan tersebut Kedutaan Rusia juga menyayangkan dampak dari laporan tersebut terhadap hubungan diplomatik yang telah lama terjalin antara Rusia dan Thailand.
Menurut Moskow, isu tentara bayaran ini berisiko merusak kepercayaan dan kerja sama bilateral yang selama ini dibangun atas dasar persahabatan.
Tak hanya itu tuduhan tersebut turut berpotensi melanggar hak-hak warga negara Rusia yang berada di Thailand untuk tujuan wisata maupun bisnis, serta dapat menimbulkan sentimen negatif yang tidak berdasar.
Rusia Dituding Ambil Peran
Adapun pernyataan bantahan ini muncul di tengah meningkatnya kewaspadaan aparat keamanan Thailand.
Baca juga: Ukraina Hantam Kapal Selam Rusia di Novorossiysk dengan Drone Bawah Laut, SBU Klaim Serangan Perdana
Sebelumnya, otoritas Thailand dilaporkan siaga setelah muncul informasi mengenai keberadaan tentara bayaran asing yang diduga dibayar oleh pemerintah Kamboja untuk tujuan spionase terkait konflik perbatasan.
Kewarganegaraan para individu tersebut sempat tidak diketahui, namun spekulasi berkembang dengan menyebut warga Rusia sebagai salah satu pihak yang dicurigai.
Tudingan itu diperkuat oleh munculnya sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa para tentara bayaran itu diduga menggunakan wilayah Thailand sebagai lokasi pertemuan.
Sementara sebagian lainnya disebut melakukan perjalanan ke Kamboja melalui bandara-bandara internasional di Thailand.
Isu ini semakin menyita perhatian publik setelah militer Thailand mengungkapkan kekhawatirannya terhadap meningkatnya penggunaan drone canggih oleh militer Kamboja.
Baca tanpa iklan