TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan kesepakatan besar dalam bisnis gas antara Israel dan Mesir.
Perjanjian bisnis gas senilai 112 miliar shekel Israel (sekitar Rp579 triliun) itu merupakan yang terbesar dalam sejarah bisnis Israel dan Mesir.
Mesir akan menerima gas tersebut selama 15 tahun ke depan melalui perusahaan energi raksasa asal Amerika Serikat (AS), Chevron, yang memiliki ladang gas di lepas pantai Israel di Laut Mediterania.
Israel akan mendapat setengah dari hasil penjualan gas itu dan masuk ke kas negara.
"Sekitar 58 miliar shekel Israel (sekitar Rp299,9 triliun) yang diperoleh dari kesepakatan itu akan langsung masuk ke kas negara," kata Netanyahu dalam pengumumannya, Rabu (17/12/2025).
“Kesepakatan ini sangat memperkuat posisi Israel sebagai kekuatan energi regional, dan berkontribusi pada stabilitas di kawasan kami," lanjutnya.
Netanyahu mengatakan kesepakatan itu akan mewajibkan perusahaan-perusahaan untuk menjual gas dengan harga yang baik kepada warga Israel.
Anak perusahaan Chevron yang ada di Israel, Chevron Mediterranean Limited (CML), menyambut baik keputusan untuk mengeluarkan izin ekspor gas alam dari reservoir Leviathan kepada pelanggan mereka di Mesir.
Sebelumnya, kedua negara dikabarkan sedang berdiskusi untuk perjanjian senilai 35 miliar USD (sekitar Rp584,5 triliun) untuk mengekspor gas dari cadangan Leviathan Israel ke Mesir hingga tahun 2040, menurut laporan The Jerusalem Post.
AS Ingin Perbaiki Hubungan Israel dan Mesir
Mitra dekat Israel, AS, telah mendesak Israel untuk menyelesaikan kesepakatan itu.
Baca juga: Netanyahu Masuk Kompleks Masjid Al-Aqsa untuk Rayakan Hanukkah
AS berharap hal itu dapat memfasilitasi pertemuan antara Netanyahu dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di bawah naungan Presiden AS Donald Trump yang diperkirakan akan dilakukan pada akhir bulan ini.
Seorang pejabat AS mengatakan kesepakatan itu menjadi peluang besar bagi Israel untuk memperbaiki hubungan dengan Mesir yang tegang selama serangan genosida Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
“Menjual gas ke Mesir akan menciptakan saling ketergantungan, mendekatkan kedua negara, menciptakan perdamaian yang lebih hangat, dan mencegah perang," kata pejabat itu kepada Axios, Minggu (14/12/2025).
Mesir, yang berbatasan dengan Jalur Gaza dan memiliki sejarah kuat dengan Palestina, berperan sebagai mediator kunci antara Israel dan kelompok Palestina, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas).
Baca tanpa iklan