News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Donald Trump Pimpin Amerika Serikat

Media Pemerintah China Tanggapi Kapal Baru Trump: Target yang Lebih Mudah

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KAPAL KELAS TRUMP - Tangkap layar YouTube CBS News memperlihatkan Presiden AS Donald Trump mengumumkan kapal perang kelas baru pada Selasa (23/12/2025). Media pemerintah China menilai kapal berukuran sangat besar dari kelas Trump justru lebih rentan menjadi sasaran mudah.

Ringkasan Berita:

  • Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana membangun kapal perang besar “kelas Trump” sebagai inti Armada Emas.
  • Kelas kapal itu klaim lebih cepat, lebih besar, dan jauh lebih kuat dari kapal perang sebelumnya.
  • Media pemerintah China menilai kapal berukuran sangat besar justru lebih rentan menjadi sasaran mudah, sementara kondisi industri kapal AS yang menurun bisa menghambat realisasi proyek.

TRIBUNNEWS.COM – Seorang pakar angkatan laut China memberikan tanggapan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencananya membangun serangkaian kapal perang besar “kelas Trump” yang disebut akan menjadi inti dari Golden Fleet atau “Armada Emas” Angkatan Laut AS.

Mengutip Newsweek, dalam konferensi pers di resor miliknya di Mar-a-Lago pada Senin (22/12/2025) malam waktu setempat, Trump menyebut kapal “kelas Trump” sebagai kapal tercepat, terbesar, dan diklaim 100 kali lebih kuat dibandingkan kapal perang mana pun yang pernah ada.

Mengutip London Maritime Academy, istilah "kelas" kapal merujuk pada kelompok kapal yang memiliki kesamaan dalam struktur, ukuran, bobot, serta kemampuan operasional, bukan pada satu kapal tunggal.

Secara historis, istilah kapal perang (battleship) mengacu pada kapal besar berlapis baja tebal yang mencapai puncak popularitasnya selama Perang Dunia II.

Namun, jenis kapal ini kehilangan pamor pada dekade-dekade berikutnya seiring dominasi kapal induk dan rudal jelajah.

Amerika Serikat menonaktifkan kapal perang kelas Iowa terakhir yang masih tersisa pada awal 1990-an.

Kapal-kapal kelas Trump yang baru direncanakan akan dipersenjatai dengan rudal hipersonik, meriam rel, laser berdaya tinggi, serta rudal jelajah nuklir, teknologi yang masih berada dalam berbagai tahap pengembangan oleh Angkatan Laut AS.

Dalam wawancara dengan media pemerintah China, Global Times, Zhang Junshe, peneliti di Institut Penelitian Akademik Militer Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat, menilai bahwa rencana tersebut secara efektif akan menciptakan jenis kapal perang baru, yang terpisah dari kapal perang tradisional yang mengandalkan meriam kaliber besar.

“Ukuran kapal perang yang sangat besar justru membuatnya lebih rentan dan berpotensi menjadi sasaran yang lebih mudah, terutama ketika kapal tersebut sarat dengan amunisi,” ujar Zhang, seperti dikutip Global Times.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi industri pembuatan kapal Amerika Serikat yang tengah mengalami penurunan dapat menjadi beban tambahan bagi realisasi proyek tersebut.

“Pengumuman proyek semacam ini mungkin bertujuan menghidupkan kembali industri pembuatan kapal, tetapi kita harus menunggu dan melihat apakah rencana ini benar-benar dapat diwujudkan,” katanya.

Baca juga: Donald Trump Meluncurkan Kelas Kapal Perang Baru, Dinamai Berdasarkan Namanya Sendiri

Menurut situs web baru Angkatan Laut AS untuk Armada Emas, kapal kelas Trump akan memiliki ukuran yang sebanding dengan kapal kelas Iowa, dengan panjang sekitar 840 hingga 880 kaki.

Namun, bobotnya disebut lebih ringan, yakni sekitar 35.000 ton, dibandingkan 48.000 ton milik kapal-kapal kelas Iowa.

Sejumlah analis mempertanyakan keberlanjutan jangka panjang kapal permukaan berukuran besar, seperti kapal induk dan kapal perang berat, di tengah pesatnya kemajuan teknologi yang dikembangkan China, termasuk rudal hipersonik yang sulit dicegat serta penggunaan kawanan drone.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Trump mengatakan dua kapal, termasuk kapal pertama kelas Trump bernama USS Defiant, telah dipesan dan akan diikuti oleh delapan kapal lainnya.

“Pada akhirnya, kami memperkirakan akan ada sekitar 20 hingga 25 kapal jenis ini,” kata Trump.

Hingga kini, pemerintahan AS belum mengumumkan jadwal pembangunan kapal-kapal tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, Angkatan Laut AS tercatat telah membatalkan atau memangkas sejumlah program kapal perang.

Bulan lalu, pemerintahan Trump membatalkan rencana pembangunan kapal fregat kelas Constellation setelah mengalami pembengkakan biaya dan penundaan konstruksi yang signifikan.

Sementara itu, pada 2009, Pentagon mengakhiri program kapal perusak kelas Zumwalt yang berbiaya sangat mahal setelah hanya memproduksi tiga dari total 32 kapal yang semula direncanakan.

Amerika Tertinggal dari China

Para pejabat AS dan analis pertahanan berulang kali memperingatkan bahwa Amerika Serikat tertinggal dari China dalam kapasitas pembangunan kapal.

Mengutip BBC.com, lebih dari 60 persen pesanan kapal dunia pada tahun ini diberikan kepada galangan kapal China, sementara angkatan laut negara tersebut telah menjadi yang terbesar di dunia.

Sejak kembali menjabat pada Januari, Trump berjanji akan menghidupkan kembali industri pembuatan kapal AS.

Baca juga: Trump Tawarkan Duit Rp50 Juta bagi Migran Ilegal yang Mau Angkat Kaki dari AS

“Dulu kita membuat begitu banyak kapal,” kata Trump pada Maret lalu.

“Kini kita tidak membuatnya terlalu banyak, tetapi kita akan membuatnya dengan sangat cepat, segera. Ini akan berdampak besar.”

Pada Oktober, Trump dan Presiden Finlandia Alexander Stubb menandatangani kesepakatan agar AS membeli 11 kapal pemecah es rancangan Finlandia, termasuk tujuh unit yang akan dibangun di AS dengan keahlian dari Finlandia.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini