TRIBUNNEWS.COM – Suasana natal di Gedung Putih memanas usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan serangan politik terhadap Partai Demokrat dalam pesan publik bernuansa Natal.
Melalui cuitan di platform Truth Social miliknya, Trump menyebut lawan politiknya yakni Partai Demokrat sebagai “sampah kiri radikal”.
“Selamat Natal untuk semua, termasuk para Bajingan Kiri Radikal yang melakukan segala upaya untuk menghancurkan negara kita, tetapi gagal total,” tulis Trump, dikutip dari The Vibes.
Ungkapan tersebut bukan sekadar makian personal, melainkan bagian dari strategi retorika politik Trump yang konsisten sejak awal karirnya di panggung nasional.
Dengan label “kiri radikal”, Trump berupaya menempatkan Demokrat bukan sebagai oposisi biasa, tetapi sebagai ancaman ideologis terhadap keamanan, identitas, dan stabilitas negara.
Dalam kesempatan tersebut Trump secara khusus juga menyindir kebijakan yang ia anggap membahayakan Amerika Serikat, terutama terkait isu perbatasan terbuka.
Menurut pandangannya, pendekatan Demokrat terhadap imigrasi telah memicu masuknya imigran ilegal dalam jumlah besar, yang dinilai membebani layanan publik, meningkatkan risiko kejahatan, serta mengancam keamanan nasional.
Isu perbatasan menjadi salah satu tema utama yang terus diangkat Trump karena menyentuh langsung kekhawatiran masyarakat kelas pekerja dan komunitas di wilayah perbatasan.
Selain imigrasi, Trump menyoroti apa yang ia sebut sebagai melemahnya penegakan hukum.
Ia mengaitkan kebijakan Demokrat dengan sikap yang dinilai terlalu lunak terhadap kejahatan, reformasi hukum yang dianggap merugikan aparat penegak hukum, serta meningkatnya rasa tidak aman di kota-kota besar.
Trump Sesumbar Ekonomi AS Cetak Rekor Dua Tahun
Baca juga: Kontroversi Tarif Resiprokal Trump Warnai Dinamika Perdagangan RI-AS
Melalui kritik ini, Trump kembali memposisikan dirinya sebagai figur “law and order” yang berkomitmen menjaga stabilitas dan keamanan publik.
Sekaligus menjadi upaya Trump mempertahankan narasi bahwa kebijakan pemerintahannya berhasil.
Terlebih baru-baru ini Kementerian Perdagangan AS merilis laporan yang menyebut perekonomian tumbuh sebesar 4,3 persen pada kuartal ketiga.
Menjadikan capaian PDB kuartal kali ini jadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Adapun laju pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta kinerja investasi yang relatif stabil di tengah ketidakpastian global.
Baca tanpa iklan