News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Realitas Evakuasi di Jepang: Kapasitas Terbatas, Risiko Kesehatan dan Pentingnya Evakuasi Mandiri

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ALUR EVAKUASI - Alur Evakuasi Saat Terjadi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami atau Banjir

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –   Ketika bencana berskala besar melanda Jepang, tidak semua korban dapat tertampung di pusat evakuasi resmi.

Fakta ini semakin jelas terutama di kawasan perkotaan padat seperti Tokyo, di mana keterbatasan ruang dan populasi tinggi menjadi tantangan serius dalam penanganan bencana.

Profesor Kehormatan Universitas Nagoya,  Fukuwa Nobuo mengatakan, berdasarkan asumsi kerusakan terbaru Gempa Bumi Metropolitan Tokyo (Tokyo Selatan) yang diumumkan pemerintah Jepang pada Desember 2025, jumlah pengungsi yang diperkirakan masuk ke pusat evakuasi resmi seperti gedung olahraga sekolah negeri dapat mencapai sekitar 4,8 juta orang dua minggu setelah bencana.

"Dari jumlah tersebut, sekitar 1,6 juta orang berada di wilayah metropolitan Tokyo. Angka ini disebut melampaui kapasitas pusat evakuasi yang tersedia," ungkap Profesor Kehormatan Universitas Nagoya,  Fukuwa Nobuo baru-baru ini.

Baca juga: Kemlu: Belum Ada Informasi WNI Jadi Korban Gempa Jepang M 7,1

Kota Padat, Tempat Evakuasi Sangat Terbatas

Di wilayah perkotaan, kekurangan tempat evakuasi menjadi persoalan struktural. Jika bencana besar seperti gempa Palung Nankai atau gempa besar Tokyo benar-benar terjadi, kemampuan pemerintah dalam memberikan bantuan akan sangat terbatas.

Para ahli kebencanaan menekankan bahwa masyarakat tidak bisa sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah (public assistance). 

Prinsip dasar yang harus dikedepankan adalah swadaya (melindungi diri sendiri) dan saling membantu di lingkungan sekitar.

"Bahkan ketika berhasil masuk ke pusat evakuasi, para pengungsi belum tentu dapat menjalani kehidupan yang layak dan nyaman," katanya.

Standar kemanusiaan internasional Sphere Standard merekomendasikan minimal 3,5 meter persegi ruang hidup per pengungsi. 

Namun, kenyataannya banyak pusat evakuasi di Jepang hanya menyediakan sekitar 2 meter persegi per orang, setara dengan sekitar 1,2 tatami.

Kondisi ini menyebabkan ruang yang sangat sempit, minim privasi, dan meningkatkan stres psikologis. Tidur berdesakan dengan sekat seadanya menjadi pemandangan umum dalam situasi darurat.

Masalah Toilet: Ancaman Nyata bagi Kesehatan

Salah satu persoalan paling serius di pusat evakuasi adalah toilet. Ketika pasokan air terputus, toilet siram tidak dapat digunakan. 

Keterbatasan jumlah toilet darurat dan buruknya sanitasi langsung berdampak pada kesehatan pengungsi.

Pedoman Kantor Kabinet Jepang menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan toilet berkorelasi langsung dengan risiko kesehatan. 

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini