TRIBUNNEWS.COM - Iran dilaporkan mengalami kelumpuhan nasional setelah gelombang demonstrasi besar yang dipimpin Generasi Z meluas ke berbagai wilayah.
Sedikitnya 21 provinsi dari 31 provinsi mengalami shutdown, ditandai dengan penutupan kantor pemerintahan, universitas, pasar, hingga aktivitas bisnis pada Rabu (waktu setempat).
Bahkan di banyak kota besar, jalan utama dijaga ketat aparat keamanan, dengan pembatasan pergerakan warga untuk mencegah berkumpulnya massa.
Mengutip dari foxnews, di Kota Teheran aktivitas pasar tradisional dan pusat perbelanjaan berhenti total setelah pedagang memilih menutup toko.
Kondisi serupa dilaporkan terjadi di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, hingga Lorestan, seiring meningkatnya ketegangan antara demonstran dan aparat keamanan.
Pemerintah menyebut shutdown sebagai langkah pengamanan untuk menjaga stabilitas dan mencegah meluasnya kerusuhan.
Namun di lapangan, penutupan ini juga mencerminkan tekanan besar terhadap sistem administrasi negara, yang kesulitan beroperasi di tengah gelombang protes yang terus meluas.
Sumber keamanan menyatakan aparat dikerahkan secara masif di titik-titik vital, termasuk kompleks pemerintahan, fasilitas energi, dan jalur transportasi utama.
Sejumlah wilayah dilaporkan mengalami gangguan layanan, termasuk pembatasan jam operasional transportasi umum dan pengawasan ketat terhadap arus keluar-masuk kota.
Gen Z Tuntut Rezim Mundur
Adapun aksi shutdown diberlakukan setelah mahasiswa dan kaum muda generasi Z turun ke jalan menuntut perubahan di tengah krisis ekonomi yang kian memburuk.
Baca juga: Iran Bergejolak, Gen Z Turun ke Jalan Tuntut Rezim Mundur Dari Kursi Jabatan
Aksi protes awalnya muncul di pusat-pusat perdagangan, termasuk pasar ponsel di Teheran, ketika para pedagang mengeluhkan lemahnya transaksi akibat harga impor yang melambung dan menurunnya minat beli masyarakat.
Namun situasi makin parah setelah memperoleh tekanan ekonomi jangka panjang akibat sanksi internasional yang kembali diberlakukan sejak 2018, menyusul penarikan Amerika Serikat dari perjanjian nuklir Iran.
Sanksi tersebut membatasi akses Iran ke pasar global, melemahkan sektor energi dan perbankan, serta berdampak langsung pada stabilitas ekonomi domestik.
Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan ini semakin terasa ketika inflasi melonjak dan biaya hidup naik tajam, sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan signifikan.
Situasi tersebut lantas memicu ketidakpuasan yang merembet ke kampus-kampus.
Baca tanpa iklan