News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

5 Populer Internasional: Cara CIA Mata-matai Maduro - Sosok Delcy Rodriguez

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BERITA POPULER INTERNASIONAL - Kolase foto: Presiden Venezuela Nicolas Maduro di atas kapal USS Iwo Jima seperti yang diunggah oleh Presiden Donald Trump di Truth Social pada Sabtu (3/1/2026); Delcy Rodriguez yang ditunjuk sebagai presiden sementara Venezuela; Patung Saddam Hussein roboh di Lapangan Firdos, Baghdad, pada 9 April 2003; Pidato Donald Trump pada 5 Juni 2025, mengumumkan larangan dan pembatasan perjalanan terhadap sejumlah negara. Inilah kompilasi berita populer internasional dalam 24 jam terakhir.

Ringkasan Berita:

  • Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat setelah operasi panjang yang melibatkan agen CIA dan drone siluman.
  • Kekosongan kekuasaan segera diisi dengan penunjukan Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara, menegaskan pengaruh keluarganya dalam politik Venezuela.
  • Penangkapan ini memicu kecemasan rakyat Venezuela dan diikuti oleh pernyataan Donald Trump yang kembali menegaskan niat Amerika Serikat untuk mencaplok Greenland.


TRIBUNNEWS.COM 
- Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat masih menjadi sorotan utama di kanal berita internasional.

Kali ini terungkap bagaimana agen CIA memata-matai pergerakan Maduro sebelum penangkapan.

Sosok pengganti Maduro, presiden sementara Delcy Rodriguez, juga menjadi perhatian.

Selengkapnya, berikut kompilasi 5 berita populer internasional dalam 24 jam terakhir.

1. Agen CIA yang 'Ditanam' Jadi Orang Dekat Presiden Venezuela Ikut Membantu Penangkapan

Rencana Amerika Serikat (AS) menjatuhkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan melibatkan banyak latihan.

Sebuah sumber CIA menyebutkan armada pesawat tak berawak siluman dan perencanaan yang cermat selama berbulan-bulan terlibat dalam penangkapan Presiden Maduro atas perintah Presiden  AS Donald Trump.

Dan puncaknya pada serangan "berskala besar" yang dramatis pada  Sabtu (3/1/2026) dini hari.

Saat Presiden Maduro bersama istrinya Cilia Flores ditangkap di kediaman mereka pukul 02.00 dini hari waktu setempat oleh pasukan Delta Force Angkatan Darat AS. 

Agen CIA Menyusup

Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) menempatkan agen mata-mata di dalam pemerintahan Venezuela memantau lokasi Nicolás Maduro selama beberapa hari maupun saat-saat sebelum penangkapannya oleh pasukan operasi khusus Amerika, menurut laporan New York Times.

Informasi ini juga dimuat oleh beberapa media lain.

Tim CIA memantau 'pola hidup' Maduro sejak Agustus 2025 lalu.

Menurut sebuah sumber yang dikutip oleh Reuters, CIA telah mengerahkan tim kecil ke Venezuela mulai Agustus 2025 lalu yang memungkinkan mereka untuk mempelajari rutinitas harian Maduro.

Bagaimana "pola hidup" sang presiden sehingga operasi penangkapan berjalan lancar. 

Dua sumber tambahan mengatakan kepada Reuters bahwa badan tersebut juga mengandalkan seorang informan yang dekat dengan Maduro.

Pembelot yang direkrut jadi mata-mata CIA ini melacak pergerakan Maduro  dan siap untuk mengidentifikasi keberadaannya yang tepat saat peristiwa berlangsung.

Pergerakan Maduro juga dipantau dengan armada drone siluman yang memberikan pelacakan hampir terus-menerus di atas Venezuela, seperti yang dilaporkan oleh New York Times.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Sosok Delcy Rodriguez 'Harimau' Venezuela yang Naik Tahta usai Maduro Diculik AS

Kekosongan kekuasaan sempat menyelimuti Venezuela setelah Presiden Nicolas Maduro diculik oleh Amerika Serikat dalam operasi militer yang mengguncang Caracas dan sejumlah wilayah lain.

Namun situasi tersebut hanya berlangsung singkat, Pemerintah Amerika Serikat secara mengejutkan mengumumkan pemimpin baru.

Yakni dengan menunjuk Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara di tengah kekacauan politik yang belum mereda, pada Senin (5/1/2026).

Penunjukan Delcy Rodriguez dilakukan tak lama setelah militer AS melancarkan serangan ke ibu kota Caracas akhir pekan lalu.

Menurut pengamat politik internasional, langkah AS bukan sekadar pengumuman simbolis.

Dengan mengangkat Delcy Rodriguez sebagai figur pengganti sementara, Washington berupaya menjaga kendali terhadap situasi politik dan ekonomi Venezuela.

Siapa Sosok Delcy Rodriguez

Bagi Venezuela, Rodriguez bukan figur baru. Ia lahir di Caracas pada 18 Mei 1969, dari keluarga dengan sejarah revolusioner yang kuat.

Ayahnya, Jorge Antonio Rodriguez, adalah tokoh kiri pendiri Liga Sosialis pada 1970-an dan tewas akibat penyiksaan aparat keamanan pada 1976.

Peristiwa tragis itu menjadi simbol perlawanan terhadap rezim lama dan membentuk identitas politik generasi Chavista, termasuk Presiden Maduro.

Rodriguez sendiri menempuh pendidikan hukum di Universitas Pusat Venezuela dan dengan cepat menanjak dalam dunia politik.

Kariernya meliputi jabatan sebagai Menteri Komunikasi, Menteri Luar Negeri, hingga Ketua Majelis Konstituen pro-pemerintah yang memperkuat kekuasaan Maduro pada 2017.

Saat ini, saudara laki-lakinya, Jorge Rodriguez, memegang posisi strategis sebagai kepala Majelis Nasional, menegaskan pengaruh keluarga Rodriguez di pusat kekuasaan Venezuela.

Dalam beberapa tahun terakhir, Delcy Rodriguez dikenal sebagai figur sentral dalam pengelolaan ekonomi negara.

Ia merangkap jabatan sebagai Wakil Presiden, Menteri Keuangan, dan Menteri Perminyakan.

Di tengah hiperinflasi dan sanksi internasional yang menekan ekonomi Venezuela, Rodriguez mendorong kebijakan yang lebih pragmatis, termasuk membuka dialog dengan sektor swasta dan menjaga jalur komunikasi dengan industri minyak global.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. 10 Pemimpin Dunia yang Digulingkan AS Sepanjang Sejarah: Saddam Hussein hingga Muammar Gaddafi

Sejarah politik mencatat bahwa Amerika Serikat kerap terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam pergantian rezim di berbagai negara dengan dalih keamanan nasional, demokrasi, hingga stabilitas regional.

Venezuela, yang presidennya Nicolás Maduro ditangkap pada Sabtu (3/1/2026), bukanlah “target” pertama Amerika Serikat.

Sebelumnya, AS tercatat pernah berperan dalam kejatuhan sejumlah pemimpin dunia yang dianggap mengancam kepentingannya.

Berikut deretan pemimpin dunia yang digulingkan AS sepanjang sejarah, seperti dilansir Newsweek.

  • Mohammad Mossaddegh — Iran (1953)

Pada 19 Agustus 1953, badan intelijen Amerika Serikat, CIA, bersama Inggris, mengatur kudeta untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh dari kekuasaan.

Kudeta tersebut bertujuan memperkuat kekuasaan Raja (Shah) Mohammad Reza Pahlavi.

AS dan Inggris melabeli Mossadegh sebagai seorang diktator, padahal ia dipilih secara demokratis oleh rakyat Iran.

Mossadegh baru saja menasionalisasi industri minyak yang sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan Inggris.

Nasionalisasi industri minyak berarti pemerintah mengambil alih kepemilikan dan pengelolaan sektor minyak dari pihak swasta atau asing, lalu menjadikannya milik negara.

Kudeta tersebut, yang memulihkan pemerintahan otoriter Reza Pahlavi, secara luas dipandang sebagai upaya melindungi kepentingan industri minyak Inggris di kawasan tersebut.

  • Jacobo Arbenz — Guatemala (1954)

Pada Juni 1954, Presiden Guatemala yang terpilih secara demokratis, Jacobo Arbenz, digulingkan dalam operasi yang didukung CIA.

Arbenz disingkirkan karena kebijakan-kebijakannya yang condong ke kiri, yang memicu kekhawatiran pejabat AS di tengah ketegangan Perang Dingin.

Kudeta tersebut menempatkan diktator militer Carlos Castillo Armas sebagai penguasa baru dan memicu kekerasan politik selama beberapa dekade di negara tersebut.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Reaksi Rakyat Venezuela setelah Presiden Maduro Ditangkap AS, Hening dan Cemas Menyelimuti

Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya Cilia Flores ditangkap pasukan Amerika Serikat di Kota Caracas, Venezuela, Sabtu (3/1/2026) dini hari.

Maduro dan Cilia ditangkap di kediaman mereka sekira pukul 02.00 dini hari waktu setempat oleh pasukan Delta Force Angkatan Darat AS. 

Keheningan dan kecemasan menyelimuti ibu kota Venezuela pada Minggu.

Dilansir Fortune, rasa waswas bercampur dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Warga lambat kembali ke rutinitas di Caracas setelah Maduro digulingkan dan ditangkap dalam operasi militer AS yang dramatis itu. 

Puluhan toko, restoran, dan gereja tetap tutup.

Orang-orang yang berada di jalan tampak terpukul, menatap ponsel mereka atau memandang ke kejauhan.

“Orang-orang masih terguncang,” kata David Leal (77), seorang juru parkir.

Ia menunjuk ke jalan yang sepi, beberapa blok dari istana kepresidenan Venezuela, yang dijaga oleh warga sipil bersenjata dan personel militer.

Gereja Tutup

Warga Venezuela tidak bisa melihat penangkapan Maduro melalui media yang dikendalikan negara karena tidak ditayangkan.

Mereka melihat gambar-gambar itu di media sosial, dan banyak yang tak percaya dengan apa yang mereka lihat.

“Semoga Tuhan memberi kami kekuatan atas apa yang sedang kami alami. Saya sedih. Dia juga manusia,” kata Nely Gutiérrez, seorang pensiunan, sambil menahan air mata.

“Dia diborgol, dan jika sudah berada di tangan imperium, tak ada yang bisa menyelamatkannya dari sana, hanya Tuhan—bahkan Tuhan pun tidak. Dia akan mati di sana.”

Gutiérrez berjalan ke gereja, tetapi mendapati gereja itu tutup.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Setelah Tangkap Presiden Venezuela, Donald Trump Kembali Tegaskan Niat Caplok Greenland

Sehari setelah militer AS menggulingkan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, Presiden Donald Trump tampaknya mengarahkan pandangannya ke target intervensi Amerika berikutnya: Greenland.

Sejak menjabat pada 2025, Trump berulang kali mengemukakan gagasan untuk membeli pulau Arktik yang tertutup es tersebut dari Denmark.

Ia juga tidak mengesampingkan kemungkinan merebut wilayah kaya sumber daya itu melalui kekuatan militer.

Mengutip USA Today, Trump berpendapat bahwa aneksasi Greenland merupakan kebutuhan keamanan nasional, dengan menekankan melimpahnya mineral penting serta lokasi strategis pulau tersebut.

Trump kemudian memperbarui seruan itu pada Minggu (4/1/2026), saat pemerintahannya merayakan “kemenangan” atas penggulingan diktator sosialis Venezuela dan berjanji akan mengelola negara Amerika Selatan tersebut hingga transisi demokrasi dapat terwujud.

“Kita memang membutuhkan Greenland, tentu saja. Kita membutuhkannya untuk pertahanan,” kata Trump kepada The Atlantic dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada 4 Januari.

Pada hari yang sama, Katie Miller, istri wakil kepala staf Gedung Putih Stephen Miller, memposting foto Greenland yang ditutupi bendera Amerika Serikat.

Di atas foto tersebut, Miller menuliskan kata “SEGERA”.

Duta Besar Denmark untuk Amerika Serikat, Jesper Moeller Soerensen, menanggapi dengan mengatakan:

“Kami mengharapkan penghormatan penuh terhadap integritas teritorial Kerajaan Denmark.”

Sementara itu, Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, telah berulang kali mengecam minat Trump untuk menjajah Greenland.

“AS tidak akan mengambil alih Greenland,” katanya dengan tegas pada Desember lalu.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini