Ringkasan Berita:
- Muncul dua keraguan yang membayangi di balik penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS)
- Pasukan AS datang ke Venezuela dan langsung membawa Presiden Maduro dan istrinya menuju ke AS tanpa perlawanan berarti
- Venezuela bukanlah negara yang tanpa struktur pertahanan atau keamanan sebab bertahun-tahun, negara ini mampu bertahan di bawah sanksi AS yang ketat, ancaman militer, dan tekanan intelijen.
TRIBUNNEWS.COM, VENEZUELA - Apakah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap dalam operasi militer AS atau disingkirkan secara diam-diam melalui kesepakatan yang telah dinegosiasikan sebelumnya?
"Laporan seputar penangkapan Presiden Maduro dan kepergiannya dari negara itu justru menimbulkan lebih banyak kebingungan daripada kejelasan."
Demikian ulasan media Iran Mehrnews dikutip pada Rabu (7/1/2026) dengan menganalisis pandangan dari berbagai pakar dan pemberitaan media barat.
Penangkapan Presiden Maduro pada Sabtu (3/1/2025) lalu menimbulkan banyak tanda tanya.
Termasuk mengapa pasukan AS begitu mudahnya masuk ke Venezuela dan langsung membawa pergi sang presiden, dimana para tentara Venezuela, bukankah kekuatan militer Venezuela di belahan benua Amerika cukup menonjol?
Keraguan pertama
Mehrnews melansir laporan dari Sky News yang mengutip sumber dari pihak oposisi Venezuela soal klaim penyerangan AS dan penangkapan Presiden Maduro.
Menurut sumber-sumber tersebut, apa yang terjadi kemungkinan besar bukanlah penangkapan oleh militer melainkan hasil dari negosiasi sebelumnya.
Sebab mana mungkin pasukan Amerika dengan begitu leluasa memasuki Venezuela, menangkap presiden yang sedang menjabat, dan membawanya pergi tanpa perlawanan berarti dari Venezuela yang dikenal memiliki pasukan militer cukup kuat di Amerika selatan.
Venezuela bukanlah negara yang tanpa struktur pertahanan atau keamanan.
Selama bertahun-tahun, negara ini mampu bertahan di bawah sanksi AS yang ketat, ancaman militer, dan tekanan intelijen.
Justru karena tekanan yang terus-menerus inilah, lembaga militer dan keamanannya tetap dalam keadaan siaga tinggi.
"Dengan latar belakang ini, anggapan bahwa pasukan AS dapat memasuki wilayah Venezuela, menahan presiden, dan keluar tanpa konfrontasi atau perlawanan yang berarti tampaknya sulit untuk diselaraskan dengan realitas di lapangan," demikian Mehrnews dalam ulasannya.
Terlepas dari retorika anti-AS-nya yang keras, Maduro, dalam beberapa tahun terakhir, telah menjajaki saluran tidak langsung dan non-publik untuk mengurangi tekanan pada pemerintahannya.
Negosiasi tidak langsung mengenai sanksi, kasus hukum, dan bahkan kerja sama terbatas di bidang-bidang tertentu menunjukkan bahwa saluran komunikasi antara Caracas dan Washington tidak pernah sepenuhnya terputus.
Di bawah tekanan ekonomi yang meningkat, ancaman keamanan, dan kebuntuan politik domestik, kemungkinan solusi yang dinegosiasikan menjadi semakin masuk akal.
Mungkin ada kesepakatan yang kemudian dikemas ulang sebagai kemenangan heroik atau kemenangan yang didorong oleh kepentingan keamanan.
Sampai bukti independen dan kredibel disajikan, klaim bahwa Nicolás Maduro ditangkap melalui operasi militer AS tetap tidak meyakinkan.
Inilah Amerika Serikat yang suka dengan heroisme, drama, dan ingin memperlihatkan kepada dunia mereka masih negara adidaya.
Keraguan kedua
Mantan Wakil Presiden Kolombia, Francisco Santos Calderon, membuat pengakuan mengejutkan soal penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1/2026) lalu.
Santos yang menjabat Wakil Presiden Kolombia pada tahun 2002-2010 dan kemudian menjadi Duta Besar Kolombia untuk AS ini menyebut Delcy Rodriguez orang yang mengkhianati Maduro.
"Oh, ini adalah operasi di mana mereka (Delcy) menyerahkannya (Maduro)," ujar Santos dikutip dari media Inggris Dailymail.
Santos bilang sungguh aneh pasukan AS dengan mudah datang ke Venezuela dan langsung menculik Presiden Maduro.
Delcy Rodriguez adalah Wakil Presiden Venezuela yang mendampingi Maduro memimpin Venezuela sejak terpilih pada Pemilu terbaru 2024 lalu.
Delcy Rodríguez termasuk orang kepercayaan Maduro.
Ia menduduki posisi wakil presiden sejak 2018 dan telah menjadi bagian dari pemerintahan sejak Hugo Chavez terpilih pada 1999.
Setelah Maduro ditangkap AS, Delcy kini menjabat sebagai presiden sementara Venezuela.
Usai pelantikan, Delcy Rodriguez mengatakan bersedia bekerja sama dengan Amerika Serikat mengenai masa depan Venezuela.
Pertemuan Rahasia di Doha
Penculikan Presiden Maduro oleh pasukan diduga melibatkan keterlibatan orang penting di lingkaran kekuasaan.
Dugaan tersebut menguat setelah muncul informasi tentang pertemuan tertutup di luar negeri yang membahas masa depan Venezuela.
Sejumlah pejabat Venezuela disebut menggelar pembicaraan tertutup di Doha, Qatar, untuk mendiskusikan arah pemerintahan pasca-Maduro.
Pertemuan itu berlangsung tanpa kehadiran Maduro.
Wapres Delcy Rodriguez bersama saudaranya, Jorge Rodriguez yang merupakan ketua parlemen Venezuela, hadir dalam pertemuan itu memimpin dialog.
Seorang anggota senior keluarga kerajaan Uni Emirat Arab dikabarkan berperan sebagai perantara antara rezim Venezuela dan Presiden AS Donald Trump.
Laporan Miami Herald, Delcy Rodriguez secara langsung menjalin komunikasi dengan pihak AS dan memosisikan diri sebagai figur yang dinilai “lebih dapat diterima” untuk memimpin Venezuela dibandingkan Maduro.
Langkah ini memicu spekulasi bahwa transisi kekuasaan telah dirancang dari dalam, bukan semata hasil tekanan eksternal.
Baca tanpa iklan