TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuding adanya campur tangan asing dalam gelombang kerusuhan yang melanda Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Pernyataan ini diungkap Khamenei setelah Kementerian Intelijen Iran membongkar dugaan keterlibatan Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam gelombang kerusuhan anti-pemerintah yang melanda negara tersebut sejak akhir Desember 2025.
Dalam laporannya Kementerian Intelijen Iran menyatakan aparat keamanan telah menemukan senjata buatan AS dalam penggerebekan di sejumlah provinsi, termasuk Azerbaijan Barat dan Khorasan, di tengah berlanjutnya aksi protes nasional.
Adapun jenis senjata yang ditemukan selama penggerebekan diantaranya 273 unit senjata api yang diduga diselundupkan menggunakan truk asing.
Tak hanya itu intelijen Iran turut menyita amunisi, komponen alat peledak improvisasi (IED), peralatan perakitan drone, serta perlengkapan pengawasan.
Total lebih dari 200 kilogram bahan peledak berhasil diamankan dari sejumlah properti perumahan, sebagaimana dikutip dari media lokal Albawaba.
Pemerintah Iran menyebut temuan ini sebagai bukti bahwa kerusuhan tidak semata-mata merupakan protes spontan, melainkan telah dipersenjatai dan dikoordinasikan secara sistematis.
Dugaan Keterlibatan Mossad dan Agen Asing
Sejumlah tersangka yang digambarkan sebagai “anggota sel teror” turut ditangkap dalam rangkaian operasi tersebut.
Otoritas Iran mengklaim beberapa dari mereka memiliki keterkaitan dengan dinas intelijen asing, termasuk Mossad Israel.
Dalam salah satu operasi, pasukan keamanan Iran dilaporkan berhasil melumpuhkan kelompok bersenjata beranggotakan empat orang dan menyita tambahan senjata api serta bahan peledak rakitan.
Baca juga: Utusan Trump Diam-diam Bertemu Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi, Bahas Pemerintahan Transisi?
Pemerintah Iran menilai pola operasi kelompok tersebut mencerminkan metode intelijen asing.Dimana dalam menjalankan aksinya agen mossad Israel menyamar sebagai demonstran.
Kemudian agen-agen ini melakukan serangan yang terencana dan terarah, bukan kekerasan spontan massa melainkan dengan cara memancing respons keras negara, memperburuk citra pemerintah, dan memperluas kemarahan publik.
Akibatnya sejumlah polisi Iran tewas dalam kondisi yang mengindikasikan eksekusi, dilakukan secara sengaja terhadap simbol negara dan penegak hukum, bukan sebagai dampak bentrokan biasa di lapangan.
Alasan inilah yang mendorong pemerintah iran termasuk Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi menuding badan intelijen Israel, Mossad, berada di balik kekerasan dalam unjuk rasa di negaranya.
Salah satu bukti lain yang ia soroti adalah unggahan media sosial mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, yang secara terbuka menyinggung keberadaan agen Mossad di dalam Iran.
Baca tanpa iklan