Ringkasan Berita:
- Rusia berupaya meningkatkan produksi drone besar-besaran dengan target 1.000 drone per hari.
- Ukraina menilai Rusia tidak menunjukkan minat untuk mengakhiri perang.
- Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.426 ketika Rusia melanjutkan serangan ke fasilitas energi di Ukraina, menewaskan dua orang dalam serangan semalam.
TRIBUNNEWS.COM - Komandan militer tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi, mengatakan Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda minat dalam pembicaraan yang mengarah pada kesepakatan perdamaian.
Sebaliknya, Rusia berupaya meningkatkan produksi senjata, termasuk target 1.000 drone per hari.
“Sebaliknya, kita melihat peningkatan intensitas aksi militer, peningkatan jumlah kelompok musuh yang ofensif, peningkatan produksi senjata serang, rudal, dan drone,” kata Jenderal Oleksandr Syrskyi kepada media daring lb.ua, Minggu (18/1/2026).
“Saat ini, musuh memproduksi 404 drone 'Shahed' (drone rancangan Iran) berbagai jenis setiap hari. Dan rencananya adalah untuk meningkatkan jumlah tersebut. Musuh berencana untuk meningkatkan produksi secara signifikan, hingga 1.000 drone per hari," jelasnya.
Jenderal tersebut mengatakan Ukraina harus memperkuat posisinya dan berupaya menggagalkan rencana Rusia untuk memproduksi lebih banyak senjata.
"Militer Ukraina harus melakukan segala upaya untuk menggagalkan rencana-rencana ini dan menimbulkan kerugian agar musuh membatalkan rencananya, serta menciptakan kondisi untuk mengadakan pembicaraan. Tidak ada yang akan membuat kesepakatan dengan pihak yang lemah," ujarnya.
Jenderal Syrskyi juga memuji taktik serangan mendalam militer Ukraina, yang ia gambarkan sebagai kekuatan utama Ukraina, dan menghasilkan serangan terhadap 719 target dan kerugian sebesar US$15 miliar, terutama pada industri minyak Rusia.
Ukraina telah mengembangkan kapasitasnya untuk memproduksi drone dengan pesat sejak Rusia melancarkan invasinya pada Februari 2022 dan negara pendukungnya mengharapkan kemajuan lebih lanjut, lapor Strait Times.
Info Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.426 pada Senin (19/1/2026).
Perang Rusia–Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 setelah Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Aksi tersebut menjadi puncak eskalasi dari hubungan kedua negara yang telah lama diwarnai ketegangan.
Baca juga: 200 Drone Rusia Serang Ukraina, Zelenskyy: Korban Tewas, Listrik Padam di Suhu Beku
Konflik ini berakar sejak runtuhnya Uni Soviet, yang membuat Rusia dan Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan arah politik dan kepentingan keamanan yang berbeda. Dalam perkembangannya, Ukraina semakin menjalin kedekatan dengan negara-negara Barat, baik di bidang politik maupun ekonomi.
Langkah Kyiv untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa dipersepsikan Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya. Ketegangan semakin meningkat pada 2014, setelah Revolusi Maidan menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dianggap dekat dengan Moskow.
Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata juga meletus di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia. Sejumlah upaya diplomatik internasional sempat dilakukan, namun tidak mampu menghentikan konflik secara berkelanjutan.
Situasi terus memburuk hingga Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi militer penuh pada Februari 2022. Rusia menyatakan operasi tersebut bertujuan melindungi warga di Donbas, menjaga kepentingan keamanannya, serta menolak perluasan NATO di Eropa Timur.
Sebagai respons, Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya menjatuhkan sanksi ekonomi berat terhadap Rusia dan meningkatkan bantuan militer serta keuangan bagi Ukraina.
Hingga saat ini, perang masih berlangsung di tengah terhambatnya pembicaraan untuk mengakhiri perang yang ditengahi AS.
Berbagai upaya diplomasi terus diupayakan, sementara perkembangan di medan tempur tetap berdampak luas terhadap stabilitas dan dinamika geopolitik global, berikut ini update perang Rusia-Ukraina yang dirangkum dari berbagai sumber.
-
Rusia Lanjutkan Serangan ke Fasilitas Energi Ukraina
Moskow terus melancarkan serangan terhadap jaringan energi Ukraina yang menewaskan sedikitnya dua orang semalam hingga Minggu (18/1/2026).
"Setidaknya enam orang terluka di wilayah Dnipropetrovsk. Rusia juga menargetkan infrastruktur energi di wilayah Odesa," menurut laporan layanan darurat.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan di Telegram bahwa memperbaiki sistem energi negara itu tetap menjadi tugas yang menantang.
“Tetapi kami melakukan segala yang kami bisa untuk memulihkan semuanya secepat mungkin," kata Zelensky, Minggu.
Presiden Ukraina mengatakan dua orang tewas dalam serangan semalam di seluruh negeri yang menghantam Sumy, Kharkiv, Dnipro, Zaporizhzhia, Khmelnytskyi, dan Odesa, dan melibatkan lebih dari 200 drone.
Militer Ukraina mengatakan 30 serangan telah tercatat di 15 lokasi.
"Satu orang tewas di kota terbesar kedua, Kharkiv," kata walikota Ihor Terekhov, seperti diberitakan The Guardian.
-
Serangan Drone Ukraina Rusak Jaringan Energi di Wilayah yang Diduduki
Serangan pesawat tak berawak Ukraina merusak jaringan energi di wilayah selatan Ukraina yang diduduki Rusia, menyebabkan ratusan ribu orang tanpa aliran listrik, menurut otoritas pendudukan Rusia di sana.
"Lebih dari 200.000 rumah tangga di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina selatan yang diduduki, tidak memiliki listrik pada hari Minggu," kata Yevgeny Balitsky, gubernur setempat yang ditunjuk Kremlin.
"Hampir 400 permukiman mengalami pemutusan pasokan listrik karena kerusakan jaringan listrik akibat serangan pesawat tak berawak Ukraina," katanya di Telegram.
-
Ukraina Perbaiki Jalur Listrik di Zaporizhzhia
Tim Ukraina telah memulai pekerjaan perbaikan pada jalur listrik cadangan yang menghubungkan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia ke jaringan listrik.
Perbaikan itu dilakukan di bawah gencatan senjata yang dimediasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menurut pernyataan organisasi PBB yang berbasis di Wina tersebut di Xpost pada hari Minggu.
Nasib pembangkit listrik yang diduduki oleh Rusia tersebut adalah isu sentral dalam perundingan perdamaian yang sedang berlangsung yang dimediasi oleh AS.
-
Spanyol: Isu Invasi AS ke Greenland Bisa Buat Putin Bahagia
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan invasi AS ke Greenland akan membuat Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi orang paling bahagia di dunia.
Dalam sebuah wawancara surat kabar, Pedro Sánchez mengatakan tindakan militer apa pun oleh AS terhadap wilayah Arktik Denmark akan merusak NATO dan melegitimasi invasi Rusia ke Ukraina.
“Jika kita fokus pada Greenland, saya harus mengatakan bahwa invasi AS ke wilayah itu akan membuat Vladimir Putin menjadi orang paling bahagia di dunia. Mengapa? Karena itu akan melegitimasi upayanya untuk menginvasi Ukraina,” kata Sánchez kepada surat kabar La Vanguardia yang diterbitkan pada hari Minggu.
“Jika Amerika Serikat menggunakan kekuatan, itu akan menjadi pertanda buruk bagi NATO. Putin akan dua kali lebih bahagia," tambahnya.
-
Pembicaraan Ukraina-AS akan Dilanjutkan di Swiss
Negosiator utama Ukraina, Rustem Umerov mengatakan pembicaraan dengan pejabat AS tentang mengakhiri perang dengan Rusia akan berlanjut pada pembukaan Forum Ekonomi Dunia pekan ini di resor Swiss, Davos.
Ia mengatakan pembicaraan selama dua hari di Florida dengan tim AS termasuk utusan Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, telah berfokus pada jaminan keamanan dan rencana pemulihan pascaperang untuk Ukraina.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan