Selama hampir 20 tahun, hasilnya belum memuaskan. Namun ketekunan dan metode seleksi alami akhirnya membuahkan anggur berkualitas tinggi. Kini, anggur Kimura dipakai oleh pabrik wine Jepang hingga produsen legendaris Prancis, De Montille.
“Buah anggur Kimura punya karakter erotis yang unik,” ujar seorang pembeli wine.
Perubahan iklim turut memainkan peran. Suhu Yoichi yang dulu setara Alsace kini mendekati Burgundy, wilayah penghasil Pinot Noir terbaik dunia.
Namun, pemanasan global juga membawa ancaman: hujan berlebih, burung perusak buah, hingga risiko penurunan keasaman anggur.
Menyadari tantangan ini, Walikota Yoichi Keisuke Saito bahkan menjalin “wine accord” dengan Gevrey-Chambertin di Burgundy untuk saling bertukar pengetahuan.
Kini, generasi muda mulai melangkah lebih jauh.
Baca juga: Panen Perdana Anggur di Ciburial Bandung Jadi Contoh Pengelolaan Wakaf Modern
Mizuki Nakai, generasi kelima keluarga petani anggur, mendirikan Domaine Mizuki Nakai setelah berguru di Domaine Takahiko.
Ia menjadi simbol fase baru: petani yang tak hanya menanam, tetapi juga memproduksi wine sendiri.
“Ketika petani mulai membuat wine dari anggurnya sendiri, Yoichi akan benar-benar terlahir sebagai wilayah wine yang sangat baik,” kata Takahiko Soga juga kepada Tribunnews.com beberapa waktu lalu.
Dari krisis apel, tujuh samurai Yoichi menorehkan sejarah.
Mereka membuktikan bahwa keberanian, kesabaran, dan visi jangka panjang mampu mengubah kota kecil di utara Jepang menjadi pusat wine kelas dunia.
Diskusi minuman tradisional di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
Baca tanpa iklan