News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Harga Minyak Dunia Dekati Level Tertinggi Akibat Ketegangan AS–Iran

Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

 

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak mentah dunia kembali berada di level tertinggi dalam enam bulan terakhir, dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terus menjadi fokus pasar energi global.

Lonjakan harga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah yang berasal dari wilayah Timur Tengah, sekaligus menunjukkan sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik yang terus bergejolak.

Pada perdagangan Jumat, crude Brent, patokan harga minyak global, berada di sekitar $70,69 per barel, mendekati level tertinggi sejak awal Agustus tahun sebelumnya.

Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) juga menunjukkan penguatan signifikan meskipun sempat terkoreksi tipis, mengutip economictimes.

Pasar dipengaruhi oleh kekhawatiran bahwa konflik antara AS dan Iran dapat menyebabkan gangguan pasokan dari wilayah Teluk Persia.

Analis menyatakan bahwa sentimen pasar tetap dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, yakni ancaman potensi serangan militer AS terhadap Iran yang dipandang dapat memicu reaksi keras dari Teheran.

Di sisi lain, sinyal adanya kemungkinan dialog antara kedua negara sempat menahan laju kenaikan harga, meskipun ketidakpastian masih dominan.

Konteks Ketegangan AS–Iran dan Implikasi Global

1. Ancaman Gangguan Pasokan Energi di Selat Hormuz

Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera India — melalui mana sekitar 20 persen dari pasokan minyak dunia diperdagangkan — kini berada di bawah tekanan geopolitik.

Ancaman Iran untuk menutup atau mengganggu jalur ini jika konflik meningkat menjadi sorotan pasar global karena konsekuensi langsungnya terhadap pasokan energi dunia.

Baca juga: Iran Balas Labeli Pasukan Militer Uni Eropa sebagai Organisasi Teroris

Blokade atau gangguan pada selat ini diperkirakan akan menyebabkan harga minyak melonjak tajam, bahkan melewati $100 hingga $130 per barel dalam skenario terburuk tertentu seperti penutupan penuh atau konflik berkepanjangan, dilansir The Daily Star.

2. Risiko Ekonomi Makro dan Inflasi

Kenaikan harga minyak yang tajam berpotensi menimbulkan dampak inflasi yang signifikan, terutama di negara-negara importir energi.

Model ekonomi menunjukkan bahwa jika harga minyak melonjak ke level ekstrem (misalnya di atas $100 per barel), tekanan inflasi di negara maju seperti AS bisa meningkat secara substansial, bahkan menghambat kemungkinan penurunan suku bunga oleh bank sentral.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini