News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Zelenskyy: Ketegangan AS-Iran Ancam Perundingan Rusia-Ukraina

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Nanda Lusiana Saputri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Zelenskyy khawatir bahwa kemungkinan serangan AS terhadap Iran akan berdampak pada keberlanjutan perundingan Rusia dan Ukraina, di mana AS menjadi penengahnya.
  • Pekan lalu, AS diwakili oleh Utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump Jared Kushner dalam pertemuan trilateral pertama antara Rusia, Ukraina, dan AS di Abu Dhabi.
  • Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.438 ketika serangan besar Rusia mulai mereda di Kyiv, dan kedua pihak menyiapkan perundingan selanjutnya.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.438 pada Sabtu (31/1/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy khawatir meningkatnya ketegangan terkait kemungkinan serangan AS terhadap Iran berpotensi menimbulkan ketidakpastian baru bagi upaya perdamaian untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina yang berlangsung sejak 2022.

Para pejabat senior Ukraina dan Rusia dikabarkan akan melanjutkan perundingan pada Minggu, 1 Februari 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). 

Namun, memanasnya kabar mengenai kemungkinan serangan AS terhadap Iran baru-baru ini dikhawatirkan akan berdampak pada rencana pertemuan tersebut.

“Tanggal atau lokasinya mungkin berubah,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kepada wartawan dalam pernyataan yang dirilis oleh kantornya, Jumat (30/1/2026). 

“Dari sudut pandang kami, sesuatu sedang terjadi dalam situasi antara Amerika Serikat dan Iran, dan perkembangan tersebut dapat memengaruhi waktunya,” jelasnya.

Presiden Ukraina berharap semua pihak dapat menghadiri pertemuan itu.

“Sangat penting bagi kami bahwa semua orang yang telah kami sepakati hadir dalam pertemuan ini, karena semua orang mengharapkan umpan balik,” kata Zelenskyy. 

Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah pembicaraan trilateral langsung pertama antara Rusia, AS, dan Ukraina di Abu Dhabi.

Utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump Jared Kushner menghadiri pertemuan trilateral pertama tersebut, tapi Witkoff dikabarkan tidak akan hadir pada pertemuan lanjutan minggu ini.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengancam Iran untuk melanjutkan perundingan perjanjian nuklir, seraya mengirimkan sinyal opsi militer dengan mengerahkan armada besar yang dipimpin USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah.

Baca juga: Rusia Undang Zelenskyy ke Moskow untuk Bahas Perdamaian dengan Putin

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia–Ukraina meletus secara terbuka pada 24 Februari 2022, ditandai dengan peluncuran operasi militer besar-besaran oleh Rusia ke sejumlah wilayah Ukraina. Serangan tersebut menjadi puncak dari eskalasi ketegangan yang telah berlangsung lama, seiring memburuknya hubungan bilateral kedua negara di bidang politik, keamanan, dan geopolitik kawasan.

Akar konflik dapat ditelusuri sejak bubarnya Uni Soviet, yang melahirkan Rusia dan Ukraina sebagai negara merdeka dengan orientasi kebijakan berbeda. Dalam perkembangannya, Ukraina semakin mendekat ke Barat melalui kerja sama politik, ekonomi, dan pertahanan dengan Eropa serta Amerika Serikat.

Upaya Kyiv untuk mempererat hubungan dengan NATO dan Uni Eropa dipersepsikan Moskow sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan strategis dan keamanan nasional Rusia. Ketegangan mencapai titik krusial pada 2014, ketika Revolusi Maidan menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dianggap pro-Rusia. Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara militer Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow.

Sejumlah inisiatif diplomasi internasional sempat diupayakan untuk meredakan konflik, namun gagal menghasilkan penyelesaian jangka panjang. Situasi terus memburuk hingga Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Moskow menyatakan operasi militer tersebut bertujuan melindungi warga di Donbas, menjaga stabilitas keamanan nasional, serta menentang perluasan pengaruh NATO di Eropa Timur.

Invasi Rusia memicu respons keras dari Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya. Berbagai sanksi ekonomi dijatuhkan terhadap Rusia, sementara Ukraina memperoleh dukungan militer dan bantuan finansial dalam jumlah besar dari Barat.

Hingga saat ini, sengketa wilayah dan kepentingan strategis kedua belah pihak masih menjadi hambatan utama dalam proses perundingan damai. Amerika Serikat pun tetap memainkan peran sentral dalam berbagai upaya diplomatik untuk menekan eskalasi konflik dan mendorong penyelesaian damai, berikut kumpulan berita terbaru.

  • Utusan Utama AS Tak Akan Hadiri Pertemuan Lanjutan di Abu Dhabi

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan utusan utama Presiden Donald Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang menghadiri putaran pembicaraan sebelumnya, tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan akhir pekan di Abu Dhabi.

Di Moskow, dua sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Kirill Dmitriev, utusan khusus Putin, akan melakukan perjalanan ke Miami pada hari Sabtu, 31 Januari 2026 untuk pertemuan dengan anggota pemerintahan Trump.

  • Intensitas Serangan Rusia Menurun

Menjelang kemungkinan pembicaraan, terjadi penurunan yang signifikan dalam serangan antara Rusia dan Ukraina.

Sementara Ukraina terus mengalami salah satu musim dingin terdingin dalam beberapa dekade, dengan banyak orang hidup tanpa listrik dan pemanas. 

Ibu kota Ukraina, Kyiv, bersiap menghadapi gelombang dingin yang sangat ekstrem mulai hari Minggu, dengan suhu diperkirakan turun hingga -26°C. 

Zelenskyy mengatakan dia menunggu untuk melihat apakah Rusia akan mematuhi usulan jeda serangan terhadap kota-kota dan infrastruktur energi Ukraina.

Pada hari Jumat, Zelenskyy mengatakan tidak ada perjanjian gencatan senjata formal antara Ukraina dan Rusia, tapi Zelenskyy mengatakan Kyiv akan menghentikan serangan tersebut jika Moskow melakukan hal yang sama. 

Zelenskky mencatat pada hari Jumat bahwa di semua wilayah, memang tidak ada serangan terhadap fasilitas energi dari Kamis malam hingga Jumat.

"Ukraina siap untuk menahan diri dari serangan sebagai timbal balik dan hari ini kami tidak melakukan pemogokan terhadap fasilitas energi Rusia,” katanya.

Sebelumnya, Donald Trump pada hari Kamis mengklaim Presiden Rusia Vladimir Putin telah setuju untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina selama seminggu. 

Kremlin telah mengakui permintaan tersebut tetapi menolak untuk mengatakan apakah presiden Rusia telah menyetujuinya. 

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengindikasikan tindakan tersebut akan berakhir pada hari Minggu, menurut laporan The Guardian.

  • Resmi Jadi PM Belanda, Rob Jetten Pastikan Negaranya Tetap Dukung Ukraina

Perdana Menteri Belanda yang baru, Rob Jetten berjanji pemerintahannya yang baru akan terus mendukung Kyiv dan mengatakan ia tidak akan berbicara dengan Moskow karena saat ini tidak ada indikasi Rusia ingin mengakhiri perang di Ukraina.

"Dan selama agresi berlanjut, kami akan terus mendukung rakyat Ukraina," katanya.

Ia juga mengatakan warga Eropa harus memiliki pendirian yang jauh lebih kuat tentang apa yang dapat dilakukan Eropa untuk dirinya sendiri, dan berhenti melihat AS di bawah Trump.

Selain itu, ia menentang saran dari beberapa pemimpin Uni Eropa bahwa Uni Eropa harus membuka kembali saluran diplomatik dengan Rusia sehingga Donald Trump tidak dapat menentukan arah pembicaraan dengan Moskow. 

Sementara itu, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán meningkatkan penentangannya terhadap bergabungnya Ukraina ke Uni Eropa, dengan mengklaim blok tersebut berupaya menerima negara itu pada tahun 2027 untuk membantunya mendapatkan keuntungan dari anggaran keuangan tujuh tahun berikutnya. 

Komentarnya muncul setelah Zelenskyy mengulangi targetnya untuk bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 2027, meskipun ada beberapa skeptisisme di Uni Eropa tentang proses yang dipercepat yang akan dibutuhkan. 

Komentar Orbán kemungkinan akan dilihat sebagai bagian dari kampanye yang semakin sengit menjelang pemilihan parlemen penting di Hungaria pada bulan April mendatang, yang dapat membuatnya digulingkan setelah 16 tahun menjabat.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini