TRIBUNNEWS.COM - Direktur Jenderal WHO (World Health Organization/Organisasi Kesehatan Dunia), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberikan pernyataan terbaru mengenai timbulnya sejumlah kasus hantavirus (virus Hanta) yang terkait kapal pesiar, MV Hondius.
Tedros mengungkap, merebaknya kasus hantavirus memang insiden yang serius, tetapi risiko kesehatannya rendah.
Sejauh ini, tercatat ada delapan kasus, termasuk tiga kasus kematian. Lima dari delapan kasus tersebut telah dikonfirmasi sebagai hantavirus.
Hantavirus adalah infeksi yang ditularkan oleh hewan pengerat, seperti tikus, yang dalam kasus langka dapat ditularkan dari orang satu ke orang lainnya.
Namun, hantavirus yang diduga terlibat adalah strain hantavirus Andes, satu-satunya strain yang diketahui mampu menular secara terbatas antar manusia, terkait dengan kontak dekat dan berkepanjangan.
“Meskipun ini merupakan insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah," kata Dr. Tedros, dikutip dari keterangan resmi yang dimuat di situs who.int, Jumat (8/5/2026).
Ia mencatat bahwa mengingat masa inkubasi, “Ada kemungkinan lebih banyak kasus yang akan dilaporkan.”
Dr. Tedros juga menyampaikan, WHO berkoordinasi erat dengan berbagai negara di bawah Peraturan Kesehatan Internasional atau IHR (International Health Regulations) terkait munculnya hantavirus.
IHR sendiri merupakan peraturan yang mendefinisikan hak dan kewajiban negara dan WHO dalam menanggapi peristiwa atau insiden kesehatan masyarakat.
Merebaknya berbagai virus, termasuk kasus hantavirus saat ini, menunjukkan alasan mengapa IHR ada, serta menekankan pentingnya kerja sama dan solidaritas global dalam menanggapi ancaman kesehatan yang tidak mengenal batas negara.
Dr. Tedros lantas menyebutkan prioritas utama dalam penanganan dan pencegahan penyebaran hantavirus.
Baca juga: Waspada Boleh Tapi Jangan Cemas Berlebihan, Pakar Ungkap Perbedaan Virus Hanta dan Covid-19
“Prioritas kami adalah memastikan pasien yang terdampak menerima perawatan, memastikan penumpang yang tersisa di kapal tetap aman dan diperlakukan dengan bermartabat, dan mencegah penyebaran virus lebih lanjut,” tutur Dr. Tedros.
Sejak mendapat informasi mengenai merebaknya hantavirus di kapal pesiar MV Hondius pada Sabtu (2/5/2026) lalu, WHO telah mengambil sejumlah tindakan.
Yang terbaru termasuk menempatkan seorang ahli di atas kapal, untuk mendukung penilaian atau assesment medis yang komprehensif terhadap semua penumpang dan awak kapal.
Ahli tersebut nantinya juga bertugas mengumpulkan informasi penting untuk mengevaluasi risiko infeksi mereka.
Baca tanpa iklan