Ringkasan Berita:
- PM Malaysia Anwar Ibrahim secara tegas membantah memiliki hubungan dengan Jeffrey Epstein setelah namanya tercatut dalam dokumen lama Departemen Kehakiman AS (DOJ).
- Nama Anwar muncul dalam email tahun 2012 di mana rekan Epstein berencana mengatur pertemuan dengan bos JPMorgan, memprediksi potensi keuntungan besar jika Anwar menjadi pemimpin Malaysia.
- Dokumen yang dirilis DOJ juga menyeret sosok Bill Gates dan keterlibatan tokoh besar lainnya seperti Pangeran Andrew.
TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, secara tegas membantah adanya hubungan apa pun dengan pihak-pihak yang terlibat dalam skandal terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.
Pernyataan ini muncul menyusul rilis dokumen terbaru dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) yang mengungkap korespondensi email dari 14 tahun silam yang mencatut namanya.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Minggu (1/2/2026), Anwar mengaku baru mengetahui bahwa namanya disebut-sebut dalam komunikasi pihak luar terkait kasus tersebut.
"Baru hari ini saya mengetahui ada pihak luar yang ingin bertemu dan bahkan 'menyebut' nama saya dalam sebuah email yang terkait dengan kasus Epstein," tulis Anwar.
Ia menekankan bahwa meskipun email itu dikirim lebih dari satu dekade lalu, ia sama sekali tidak mengenal maupun memiliki hubungan dengan para pihak yang terlibat dalam percakapan tersebut, terutama Epstein sendiri.
Nama Anwar Ibrahim sendiri muncul dalam tangkapan layar email tertanggal 21 Februari 2012.
Dalam pesan yang identitas pengirimnya disunting oleh DOJ tersebut, seorang rekan Epstein menanyakan kemungkinan untuk mengatur pertemuan pribadi antara Anwar dengan "Jes".
Sosok "Jes" yang dimaksud pada surat elektronik tersebut merujuk pada Jes Staley, CEO bank investasi JPMorgan saat itu.
Rekan Epstein tersebut memprediksi potensi keuntungan besar bagi JPMorgan jika Anwar berhasil naik takhta menjadi pemimpin Malaysia.
"Jika ia menjadi perdana menteri, ia akan melakukan pembenahan, dan hal itu bisa menjadi tambang emas bagi JPM," demikian bunyi kutipan dalam email tersebut.
Bantahan dari Tokoh Lainnya yang Dicatut
Anwar Ibrahim bukan satu-satunya tokoh besar yang terseret dalam jutaan halaman dokumen yang dirilis DOJ sejak Jumat waktu setempat (30/1/2026).
Nama-nama beken seperti miliarder Bill Gates hingga Pangeran Andrew dari Inggris juga kembali mencuat.
Bahkan pihak Bill Gates juga melayangkan protes keras terhadap isi dokumen tersebut.
Baca juga: Anwar Ibrahim Bantah Kabar Malaysia Berikan Lahan 5.207ha untuk Indonesia
Dalam sebuah draf email, Epstein mengklaim bahwa Gates pernah terlibat dalam sebuah perselingkuhan.
Menanggapi hal itu, Yayasan Gates merilis pernyataan resmi melalui The New York Times.
"Klaim-klaim ini berasal dari seorang pembohong yang telah terbukti. Hal tersebut sangat tidak masuk akal dan sepenuhnya salah." ungkap pihak Yayasan Gates
Sementara itu, Wakil Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menegaskan bahwa proses perilisan 3 juta dokumen, 180.000 foto, dan 2.000 video ini dilakukan secara independen tanpa campur tangan Gedung Putih.
Meski dokumen tersebut berisi informasi sensitif yang melibatkan Presiden Donald Trump, Blanche menjamin tidak ada perlindungan khusus bagi pihak mana pun.
"Kami tidak melindungi Presiden Trump. Kami tidak memberikan perlindungan khusus kepada siapa pun," tegas Blanche dalam konferensi pers seperti yang dikutip dari ChannelNewsAsia.
Jeffrey Epstein sendiri mengakhiri hidupnya di sel penjara New York pada 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seksual anak di bawah umur.
Kematiannya yang dinyatakan sebagai bunuh diri meninggalkan misteri besar mengenai jaringan luas yang melibatkan elit politik, akademisi, hingga pesohor dunia yang pernah bersinggungan dengan lingkaran sosialnya.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan