TRIBUNNEWS.COM, ABU DHABI - Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan, membahas berbagai isu krusial, mulai dari penanganan bencana, ancaman perubahan iklim, hingga kerja sama riset dan teknologi antara kedua negara.
Pertemuan keduanya berlangsung di Istana Kepresidenan Qasr Al Watan (Palace of the Nation), Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE), Rabu (4/2/2026) waktu setempat.
Baca juga: Megawati Soekarnoputri Sampaikan Pesan Perempuan Indonesia di Forum UEA
Sheikh Khaled mengawali perbincangan dengan menyampaikan ucapan simpati atas musibah banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
"Putera Mahkota menyampaikan bela sungkawa yang mendalam atas musibah banjir yang melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat," kata Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Agama (non-aktif) yang juga Duta Besar RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, yang turut mendampingi.
Megawati kemudian menjelaskan saat ini proses pendampingan, pemulihan, dan pembangunan kembali wilayah terdampak tengah berproses.
Putri proklamator Bung Karno ini lalu menyoroti akar masalah bencana hidrometeorologi, yaitu perubahan iklim.
Ia mengungkit perbincangannya dengan Paus Fransiskus soal keseriusan dunia internasional dalam mencegah dampak buruk perubahan iklim bagi peradaban kemanusiaan.
"Ibu Megawati menyampaikan problem serius perihal perubahan iklim. Beliau menceritakan perbincangannya bersama Paus Fransiskus mengenai keseriusan dunia internasional dalam masalah ini, karena dampaknya sangat nyata bagi peradaban kemanusiaan," kata Zuhairi.
Megawati mengajak Putra Mahkota agar ikut menyuarakan urgensi penanganan iklim global.
Sheikh Khaled pun menyambut positif gagasan ini dan menyatakan komitmennya dalam menghadapi ancaman nyata di depan mata tersebut.
Selain isu lingkungan, Megawati juga memperkenalkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kepada Putra Mahkota.
Ia menegaskan posisi BRIN sebagai garda depan dalam membangun peradaban bangsa lewat riset ilmiah.
Dirinya menjabarkan bahwa BRIN saat ini punya lebih dari 8.144 peneliti di berbagai bidang yang selama ini membantu pemerintah RI mengembangkan inovasi.
Baca tanpa iklan