News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Sutra Jepang Terancam Hilang, Warisan Budaya di Ujung Tanduk

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PRODUKSI ULAT SUTRA - Grafik produksi ulat sutera Jepang yang terus menurun drastis sejak topnya di tahun 1930

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO   — Industri tradisional budidaya ulat sutra (yōsan) di Jepang menghadapi krisis serius. Data yang dirangkum oleh Dainippon Sanshikai (Asosiasi Persuteraan Jepang) menunjukkan, jumlah petani ulat sutra nasional pada tahun fiskal 2025 turun 21 rumah tangga dibanding tahun sebelumnya berjumlah  113 rumah tangga, angka terendah sepanjang sejarah. 

Jumlah tersebut kini (2026) berada di ujung tanduk hanya di bawah 100 rumah tangga yang mengerjakannya.

Penyebab terbesar penurunan adalah faktor penuaan. Pada 2024, sebanyak 65 persen pengelola usaha berusia 70 tahun ke atas, dan 86% di antaranya tidak memiliki penerus. 

Pada 2025 saja, 18 petani menutup usaha karena faktor usia.

"Padahal pada masa puncaknya tahun 1929, jumlah petani ulat sutra di Jepang mencapai lebih dari 2,2 juta rumah tangga, menjadikan sutra sebagai industri ekspor utama Jepang," ungkap sumber Tribunnews.com Selasa (24/2/2026).

Baca juga: Singapura Izinkan Warganya Konsumsi 16 Jenis Serangga, Termasuk Jangkrik, Belalang, dan Ulat Sutra

Namun sejak merebaknya serat sintetis murah dan meningkatnya impor benang sutra, industri ini terus mengalami kemunduran.

Pada 2025, budidaya ulat sutra hanya tersisa di 18 prefektur.

Terbanyak berada di Prefektur Gunma dengan 47 rumah tangga (turun 6), diikuti Prefektur Tochigi sebanyak 12 dan Prefektur Fukushima sebanyak 11. 

Sementara di lima prefektur lainnya, hanya tersisa satu petani.

Produksi kepompong juga turun 7 ton menjadi hanya 31 ton. 

Pangsa benang sutra domestik terhadap kebutuhan sutra nasional merosot hingga 0,13% (2024).

Masalah besar lainnya adalah harga yang rendah. 

Menurut perhitungan asosiasi, biaya produksi kepompong mencapai 4.400 yen per kilogram, namun harga jual rata-rata hanya 2.665 yen. Struktur harga yang merugi ini mempercepat penutupan usaha.

Ketua asosiasi, Matsushima Hiromichi, menyatakan, “Jika kondisi ini berlanjut, sutra Jepang akan benar-benar hilang. Kami ingin masyarakat memahami nilai benang sutra domestik dan ikut mendukungnya.”

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini