TRIBUNNEWS.COM, ARAB SAUDI - Riyadh, ibu kota Arab Saudi menjadi pusat evakuasi utama bagi warga kaya dan eksekutif senior yang berupaya meninggalkan kawasan Teluk di tengah meningkatnya ketegangan regional, menurut laporan Semafor.
Saat sejumlah kota Teluk menghadapi gangguan penerbangan akibat serangan rudal dan drone Iran, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh justru menjadi salah satu dari sedikit bandara besar di kawasan yang tetap beroperasi normal.
Serangan pada akhir pekan dilaporkan menargetkan kota-kota seperti Dubai dan Abu Dhabi, serta sejumlah lokasi di Qatar dan Bahrain.
Dampaknya, beberapa wilayah udara ditutup dan aktivitas penerbangan terganggu signifikan.
Perjalanan Darat 10 Jam Demi Keluar Kawasan
Dikutip dari Arabnews.com, dengan semakin terbatasnya opsi penerbangan langsung dari kota-kota terdampak, para eksekutif dan individu beraset besar (high net worth individuals) memilih jalur darat menuju Riyadh.
Dalam beberapa kasus, mereka menempuh perjalanan hingga sekitar 10 jam dari Dubai demi mencapai ibu kota Saudi.
Baca juga: Perang AS–Israel vs Iran Lumpuhkan Penerbangan Global, Jemaah Umrah Masih Tertahan di Saudi
Setibanya di Riyadh, mereka menaiki penerbangan komersial maupun jet pribadi untuk keluar dari kawasan, terutama menuju Eropa.
Mengutip sumber yang mengetahui pengaturan tersebut, Semafor melaporkan bahwa perusahaan keamanan swasta menyewa armada SUV untuk mengangkut klien ke Riyadh sebelum mengatur keberangkatan pesawat sewaan.
Mereka yang dievakuasi disebut mencakup pejabat senior lembaga keuangan global hingga pengusaha kaya yang berada di Teluk untuk urusan bisnis maupun rekreasi.
Lonjakan permintaan ini memicu kenaikan biaya secara drastis.
Ameerh Naran, CEO pialang jet pribadi Vimana Private, menyebut Riyadh kini menjadi satu-satunya opsi nyata bagi mereka yang ingin segera meninggalkan kawasan.
Biaya sewa jet pribadi dari ibu kota Saudi ke Eropa dilaporkan melonjak hingga 350.000 dolar AS per penerbangan.
Opsi Alternatif Menyempit
Sebelumnya, Oman sempat dipertimbangkan sebagai koridor alternatif untuk keluar dari kawasan.
Namun opsi tersebut tak lagi memungkinkan setelah dilaporkan terjadi serangan Iran terhadap infrastruktur pelabuhan dan sebuah kapal tanker di negara itu.
Dengan semakin terbatasnya rute alternatif, Riyadh praktis menjadi titik transit paling mudah diakses dan paling stabil secara operasional.
Meski sejumlah sekolah di Riyadh beralih ke pembelajaran jarak jauh dan beberapa perusahaan menganjurkan staf bekerja dari rumah sebagai langkah antisipatif, kehidupan sehari-hari di kota tersebut dilaporkan masih berjalan relatif normal.
Baca tanpa iklan