Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat dan Iran berselisih mengenai status kapal perang IRIS Dena yang tenggelam di Samudra Hindia.
- AS menegaskan kapal itu bersenjata, sementara Iran menyebutnya tidak bersenjata dan hanya hadir secara seremonial.
- Perbedaan klaim ini memperburuk ketegangan setelah insiden yang menewaskan puluhan pelaut.
TRIBUNNEWS.COM – Amerika Serikat dan Iran memberikan keterangan yang berbeda mengenai tenggelamnya kapal perang Iran di Samudra Hindia pekan lalu.
AS membantah klaim Iran yang menyatakan bahwa kapal tersebut, tidak bersenjata, sementara pejabat Iran bersikeras bahwa kapal tersebut beroperasi dalam kondisi non-tempur.
Dilansir Associated Press, Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat pada Minggu (8/3/2026) menanggapi klaim Iran bahwa kapal perang IRIS Dena tidak bersenjata saat ditenggelamkan dalam serangan kapal selam di perairan internasional lepas pantai Sri Lanka pada 4 Maret 2026.
Dalam sebuah pernyataan di X, INDOPACOM menyebut, pernyataan Iran bahwa kapal tersebut tidak bersenjata adalah palsu.
Tanggapan ini menyusul keberatan keras dari Iran, yang berulang kali menyebut kapal perang tersebut sebagai tidak bersenjata, dengan alasan kapal tersebut sedang kembali ke pangkalan setelah berpartisipasi dalam latihan angkatan laut.
Seorang pejabat angkatan laut India, yang berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media, mengatakan bahwa kapal Iran tersebut tidak sepenuhnya tidak bersenjata dan telah berpartisipasi dalam latihan bersama kapal perang negara lain.
Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa kapal-kapal yang hadir dalam acara semacam itu biasanya tidak membawa muatan amunisi tempur penuh, kecuali jika dijadwalkan untuk latihan tembak langsung.
Mereka mengatakan bahwa bahkan selama fase latihan laut, kapal-kapal umumnya hanya membawa amunisi yang dikendalikan ketat dan terbatas pada latihan tertentu.
Rahul Bedi, seorang analis pertahanan independen yang berbasis di India, mengatakan bahwa kapal tersebut mungkin telah menggunakan beberapa amunisi non-ofensif terbatas selama latihan angkatan laut, tetapi protokol mengharuskan kapal yang berpartisipasi untuk tidak bersenjata.
"Prasyarat untuk berpartisipasi dalam parade atau upacara semacam itu adalah bahwa kapal tersebut datang tanpa senjata. Itu adalah prasyarat Angkatan Laut India dan sebagian besar angkatan laut lainnya ketika mereka mengadakan tinjauan armada serupa," kata Bedi.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan pada hari Jumat (6/3/2026) bahwa kapal perang yang ditenggelamkan oleh torpedo AS itu tidak membawa senjata dan menuduh AS menargetkan kapal seremonial.
“Kapal itu atas undangan teman-teman India kami, untuk menghadiri latihan internasional. Itu bersifat seremonial. Kapal itu tidak bermuatan. Kapal itu tidak bersenjata,” katanya kepada wartawan di New Delhi.
Baca juga: Penjelasan Struktur Kekuasaan di Iran: Apa Bedanya Pemimpin Tertinggi dan Presiden?
Dilaporkan sebelumnya, kapal IRIS Dena tenggelam pada Rabu (4/3/2026) di Samudra Hindia dekat Sri Lanka setelah terkena torpedo yang ditembakkan dari kapal selam AS, menurut pejabat Amerika dan Iran.
Kapal ini merupakan salah satu kapal perang terbaru Iran, yang berpatroli di perairan dalam, dan dipersenjatai dengan meriam berat, rudal permukaan-ke-udara, rudal anti-kapal, dan torpedo. Kapal ini membawa satu helikopter.
Angkatan Laut Sri Lanka menyelamatkan 32 pelaut dan menemukan 87 jenazah.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menggambarkan IRIS Dena sebagai kapal rampasan dan mengatakan bahwa kapal itu "meninggal dengan tenang."
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggambarkan serangan itu sebagai kekejaman di laut dan menekankan bahwa kapal tersebut adalah tamu Angkatan Laut India.
Berapa Banyak Kapal Perang yang Dimiliki Iran?
Mengutip ABC News, sebuah laporan dari Australian Naval Institute tahun lalu menemukan bahwa angkatan laut Iran terdiri dari lebih dari 18.500 personel dan lebih dari 100 kapal, termasuk kapal permukaan dan kapal selam.
Meskipun jumlahnya signifikan, itu masih jauh dari kekuatan tempur yang dapat dikerahkan oleh Angkatan Laut AS, yang memiliki 11 kapal induk, dua di antaranya dikerahkan dalam perang di Timur Tengah ini.
AS dan Israel kini tanpa henti menargetkan kapal-kapal Iran.
Jenderal AS, Dan Caine, mengatakan bahwa Pentagon telah menghancurkan 20 kapal Iran sejak AS dan Israel mulai melancarkan serangan pada hari Sabtu (28/2/2026).
Citra satelit yang diambil dari pangkalan angkatan laut Iran menunjukkan kapal-kapal yang tenggelam atau miring setelah dihantam oleh pasukan AS dan Israel.
Hingga kini, serangan terhadap Iran masih terus berlanjut.
Mengutip Iran International, serangan rudal dan ledakan terus dilaporkan di beberapa kota di Iran pada hari Minggu (8/3/2026), termasuk Teheran, Tabriz, Isfahan, Bandar Abbas, Ahvaz, dan daerah-daerah di dekat Yazd.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan serangan itu bertujuan untuk memecah belah Iran guna mengambil alih kekayaan minyak warga Iran secara ilegal, Al Jazeera melaporkan.
Harga minyak telah melonjak lebih dari 25 persen, ke level tertinggi sejak pertengahan 2022, karena beberapa produsen utama memangkas pasokan dan kekhawatiran akan gangguan pengiriman yang berkepanjangan mencengkeram pasar karena perang yang meluas.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan