Ringkasan Berita:
- Operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran diperkirakan menghabiskan 5,82 miliar dolar AS dalam 100 jam pertama.
- Termasuk biaya operasi dan kerugian aset akibat serangan balasan Iran.
- Serangan AS ke Iran diberi nama Operation Epic Fury.
TRIBUNNEWS.COM - Operasi militer Amerika Serikat (AS) yang dinamai Operation Epic Fury diperkirakan telah menelan biaya sekitar 5,82 miliar dolar AS hanya dalam 100 jam pertama sejak dimulai.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 0,69 persen dari total anggaran pertahanan AS untuk tahun 2026.
Mengutip Anadolu Agency, menunjukkan bahwa dalam 24 jam pertama operasi, AS menghabiskan sekitar 779 juta dolar AS.
Seiring berlanjutnya operasi, total biaya ofensif militer meningkat hingga sekitar 3,3 miliar dolar AS, sejalan dengan estimasi lembaga riset Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Selain biaya operasional, militer AS juga mengalami kerugian besar akibat serangan balasan dari Iran.
Berdasarkan estimasi Anadolu, nilai kerugian aset militer AS sejauh ini mencapai sekitar 2,52 miliar dolar AS.
Kerugian terbesar berasal dari hancurnya sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar yang bernilai sekitar 1,1 miliar dolar AS setelah terkena serangan rudal Iran.
Qatar mengonfirmasi radar tersebut memang terkena serangan dan mengalami kerusakan.
Pada Minggu (2/3/2026), tiga jet tempur F-15E Strike Eagle juga hilang akibat insiden oleh sistem pertahanan udara Kuwait.
Seluruh enam awak pesawat selamat, namun nilai penggantian tiga pesawat tersebut diperkirakan mencapai sekitar 282 juta dolar AS.
Pejabat AS yang berbicara kepada CBS News juga menyebutkan tiga drone pengintai dan serang MQ-9 Reaper milik Angkatan Udara AS telah ditembak jatuh dengan nilai kerugian sekitar 90 juta dolar AS.
Dalam serangan awal Iran pada Sabtu (1/3), markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain, juga menjadi sasaran.
Baca juga: Iran Tak Sudi Damai dengan AS-Israel: Rudal Terberat akan Diluncurkan
Serangan tersebut menghancurkan dua terminal komunikasi satelit serta sejumlah bangunan besar lainnya.
Laporan intelijen sumber terbuka mengidentifikasi terminal komunikasi satelit yang dihancurkan sebagai tipe AN/GSC-52B dengan estimasi biaya sekitar 20 juta dolar AS termasuk instalasi dan penempatan.
Citra satelit yang dianalisis oleh The New York Times juga menunjukkan tiga radome tambahan hancur di Camp Arifjan di Kuwait dengan kerugian sekitar 30 juta dolar AS.
Selain itu, komponen radar AN/TPY-2 dari sistem pertahanan rudal balistik Terminal High Altitude Area Defense di Kota Industri Al-Ruwais di Uni Emirat Arab dilaporkan hancur.
Setiap radar tersebut diperkirakan bernilai sekitar 500 juta dolar AS. Laporan lain juga menyebut satu sistem serupa di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania kemungkinan ikut hancur.
Secara keseluruhan, kerusakan aset militer AS akibat serangan Iran diperkirakan mencapai sekitar 2,52 miliar dolar AS.
Sementara itu, analisis CSIS menyebut estimasi pengeluaran awal sebesar 779 juta dolar AS kemungkinan mencerminkan biaya operasi militer harian AS.
CSIS juga memperkirakan pengisian kembali persediaan amunisi yang digunakan dalam 100 jam pertama operasi akan menelan biaya sekitar 3,1 miliar dolar AS, dengan tambahan pengeluaran sekitar 758,1 juta dolar AS per hari jika operasi terus berlanjut.
Dua kapal induk AS, yaitu USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, yang masih berada di kawasan bersama kapal perusak dan kapal tempur pesisirnya, diperkirakan menghabiskan sekitar 15 juta dolar AS per hari untuk operasional.
Selain itu, sistem pertahanan AS juga digunakan secara intensif untuk mencegat serangan Iran.
Berdasarkan estimasi Payne Institute for Public Policy, militer AS telah menembakkan sekitar 180 pencegat rudal laut SM-2, SM-3, dan SM-6, sekitar 90 rudal Patriot PAC-2 dan PAC-3, serta 40 pencegat THAAD selama operasi berlangsung.
(*)
Baca tanpa iklan