News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Imbas Perang AS-Israel vs. Iran, Pakar Minta Pemerintah Prioritaskan Ketahanan Ekonomi

Penulis: Muhamad Deni Setiawan
Editor: Febri Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Peneliti PSKP UGM Achmad Munjid meminta pemerintah memprioritaskan ketahanan ekonomi di tengah eskalasi perang AS-Israel dengan Iran.
  • Munjid menyebut cadangan energi Indonesia sangat kecil karena tidak punya tempat untuk menyimpan.
  • Jadi, jika perang AS-Israel dan Iran berlangsung lama, maka dampaknya ke Indonesia akan sangat besar.

TRIBUNNEWS.COM - Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Achmad Munjid meminta pemerintah memprioritaskan ketahanan ekonomi di tengah eskalasi perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Pasalnya, permasalahan serius yang akan dihadapi Indonesia karena perang di Timur Tengah itu adalah ekonomi.

"Ya, problem serius kita sebetulnya dampak perang ini berhubungan dengan ekonomi," ujar Munjid dalam program On Focus yang tayang di YouTube Tribunnews, Senin (9/3/2026).

Munjid menyebut cadangan energi Indonesia sangat kecil karena tidak punya tempat untuk menyimpan.

Jadi, jika perang AS-Israel dan Iran berlangsung lama, dampaknya ke Indonesia akan sangat besar.

"Harga minyak dunia akan naik, kita enggak punya cadangan, kemudian kita mengimpor dengan harga yang sangat tinggi," tutur Munjid.

Cara yang bisa ditempuh Indonesia untuk membangun ketahanan ekonomi, kata Munjid, adalah membentuk aliansi baru dengan negara-negara lain.

Menurutnya, Indonesia harus memanfaatkan posisinya untuk merapat, misalnya, dengan Cina, tetapi dengan bargaining power (daya tawar) yang jelas.

"Bukan karena sekarang Amerika sedang begitu, lalu kita mendekat ke Cina, tapi tanpa bargaining position (posisi tawar) yang jelas kita akan jadi mangsa juga," ungkapnya.

Munjid mencontohkan bagaimana Kanada membangun middle power, begitu pula dengan negara-negara di Eropa.

Ia menilai bahwa tatanan global sedang mengalami restrukturisasi karena Eropa menjauh dari Amerika dan mereka ingin membangun kekuatan baru.

Baca juga: Mengenal Pulau Kharg, Pusat Minyak Vital di Iran yang Masih Belum Tersentuh Pemboman AS-Israel

"Saya kira waktunya Indonesia untuk memetakan dengan kepentingan kita sendiri. Kita mau beraliansi dengan siapa? Kita mau membangun kekuatan dengan siapa? Sehingga kemudian berdasarkan itu, kepentingan nasional kita, terutama untuk ketahanan ekonomi kita itu posisinya jauh lebih baik," tuturnya.

Bahlil Rapat dengan Prabowo

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia kembali mendatangi Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa petang (10/3/2026).

Bahlil mengatakan kedatangannya untuk mengikuti rapat bersama Presiden Prabowo Subianto membahas persiapan Idul Fitri 1447 Hijriah, serta antisipasi dampak perang di Timur Tengah terhadap ketersediaan BBM di dalam negeri.

"Feeling saya masih tetap terkait dengan urusan persiapan hari Raya Idul Fitri dan ketersediaan pangan, kemudian BBM, dan juga adalah bagaimana menyikapi perkembangan terkini terkait dengan ketegangan di Timur Tengah," katanya.

Bahlil mengatakan dampak perang antara AS-Israel dengan Iran harus di antisipasi terutama pada sektor energi. Harga minyak mentah dunia naik turun secara signifikan sejak perang tersebut meletus akhir Februari 2026 lalu.

"Karena kita tahu kemarin harga BBM naik mencapai di atas 100 dolar per barel dan tadi hari ini sudah turun di bawah 100 barel per day sekitar 80-90 dolar jadi memang terjadi fluktuasi yang sangat cepat sekali," katanya.

Bahlil mengatakan pemerintah terus mencari cara agar harga minta mentah dunia yang fluktuatif ini tidak terlalu berdampak ke dalam negeri.

Ketua Umum Partai Golkar itu bilang, jika harga minyak mentah dunia terus naik maka pemerintah akan menambah anggaran subsidi.

"Ya kalau terus terjaid pasti dampaknya di anggaran pemerintah akan menambah anggaran untuk subsidi tapi kita sedang memitigasi bahwa kita harus juga mencari sumber-sumhet energi lain selain energi fosil termasuk energi nabati," tuturnya.

(Tribunnews.com/Deni/Taufik)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini