TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan konflik Timur Tengah yang terus meningkat mendorong Australia mengambil langkah darurat dengan menarik sebagian staf diplomatiknya dari kawasan tersebut.
Pemerintah Australia memerintahkan para pejabat non-esensial yang bertugas di Israel dan Uni Arab Emirates untuk segera meninggalkan negara penugasan menyusul memburuknya situasi keamanan di kawasan.
Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, melalui pernyataan di media sosial pada Jumat (13/3/2026).
Dalam cuitannya ia menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil sebagai langkah pencegahan guna melindungi keselamatan staf diplomatik Australia di tengah meningkatnya eskalasi konflik regional.
Menurut Wong, pemerintah Australia hanya menarik staf yang tidak memiliki peran vital, sementara sejumlah pejabat penting tetap berada di lokasi untuk membantu warga negara Australia yang masih berada di wilayah tersebut.
Lebih lanjut pemerintah Australia juga mempercepat proses evakuasi warga negaranya dari kawasan Timur Tengah.
Dua penerbangan yang membawa total 307 warga Australia dan penduduk tetap dijadwalkan tiba di Melbourne dan Sydney pada Jumat pagi setelah diberangkatkan dari Uni Emirat Arab.
Selain itu, pemerintah Australia turut menyiapkan empat penerbangan tambahan pada malam hari yang akan digunakan untuk memulangkan warga Australia lainnya, tergantung pada kondisi keamanan dan ketersediaan wilayah udara di kawasan tersebut.
Langkah evakuasi ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah.
Banyak negara kini mulai memprioritaskan keselamatan warganya sambil terus memantau perkembangan situasi geopolitik yang masih sangat dinamis.
Timteng Memanas usai Digertak Mojtaba Khamenei
Langkah evakuasi ini dilakukan setelah pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pernyataan keras terkait konflik yang sedang berlangsung.
Mojtaba Khamenei sendiri resmi menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 8 Maret setelah ayahnya, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama serangan gabungan yang dilakukan oleh United States dan Israel terhadap Iran.
Pergantian kepemimpinan tersebut terjadi di tengah situasi perang yang semakin memanas di kawasan.
Baca juga: Perang Iran Guncang Jalur Minyak Global, Selat Hormuz Tercekik, Terusan Panama Jadi Rute Alternatif
Dalam pernyataan publik pertamanya sejak dilantik, ia bersumpah akan membalas kematian warga Iran yang menjadi korban serangan militer dalam konflik Timur Tengah yang semakin meluas.
Mojtaba juga menegaskan bahwa Iran tidak akan mengabaikan tuntutan pembalasan terhadap kematian para korban yang disebutnya sebagai “martir”.
Baca tanpa iklan